Skip to main content

Diabetes Tipe 2

Apa itu Diabetes Tipe 2?

Secara umum Diabetes adalah sebuah kondisi metabolis antara gula darah (glukosa) dan insulin yang mengakibatkan tingginya kadar gula dalam darah. Saat seseorang dinyatakan dirinya punya Diabetes, maka ini mengindikasikan adanya penyimpangan dalam produksi atau penggunaan insulin dalam tubuhnya.

Jika kondisi ini dibiarkan tidak terkontrol, maka orang yang bersangkutan beresiko terkena berbagai komplikasi serius seperti hipertensi, stroke, impotensi, kebutaan, gagal ginjal, bahkan kematian.

Di dunia kedokteran, Diabetes yang banyak dikenal saat ini biasanya digolongkan ke dalam dua tipe Diabetes, yaitu Diabetes Tipe 1 dan Diabetes Tipe 2.

Orang yang memiliki Diabetes Tipe 1 adalah mereka yang tubuhnya tidak bisa menghasilkan insulin dikarenakan rusaknya organ pankreas. Saat ini masih belum jelas apa yang menyebabkan Diabetes Tipe 1, namun dugaan terkuat adalah adanya kelainan autoimun yang menyerang pankreas.

Sedangkan pada Diabetes Tipe 2, organ pankreas masih bisa memproduksi insulin namun tidak bisa lagi dimanfaatkan karena jumlah insulin di dalam tubuh sudah melebihi kebutuhan tubuh itu sendiri. Penyebab dari kondisi ini umumnya dipicu oleh tingginya asupan karbohidrat dan gula yang sudah berlangsung lama (menahun).

Insulin?

Dari beragam artikel yang saya baca, bisa saya simpulkan bahwa ada dua fungsi utama insulin dalam tubuh. Yaitu memfasilitasi pengolahan glukosa menjadi energi dan membantu pembentukan lemak sebagai cadangan bahan bakar dengan memanfaatkan kandungan gula dalam darah.

Tujuan dasar dari kedua fungsi insulin ini adalah untuk memastikan bahwa tubuh bisa beroperasi secara normal sehingga kita tetap hidup.

Dalam proses konversi glukosa menjadi energi, insulin akan menginstruksikan sel untuk menyerap gula darah dan memprosesnya hingga menjadi sumber energi yang bisa dimanfaatkan oleh organ-organ tubuh.

Di saat yang relatif sama, insulin juga meminta liver (hati) untuk mengolah gula menjadi lemak sebagai cadangan energi yang nantinya akan digunakan saat tidak ada asupan makanan/minuman.

Resistensi Insulin

Secara alami pankreas terprogram untuk meningkatkan produksi insulin saat tubuh mendeteksi adanya kenaikan kadar gula dalam darah. Peningkatan produksi ini akan mendorong sel untuk menyerap gula lebih banyak dan mengubahnya menjadi energi dan cadangan lemak.

Pada kondisi normal, jumlah insulin yang dihasilkan akan dapat mengembalikan kadar gula dalam darah ke posisi 70-100 mg/dL. Namun apabila kadar gula terus menerus tinggi, maka pankreas akan bekerja lebih keras lagi dan menyebabkan tubuh jadi kelebihan insulin.

Kelebihan insulin berhubungan langsung dengan jumlah asupan makanan/minuman yang dikonsumsi seseorang. Terutama makanan/minuman yang mengandung karbohidrat dan gula (termasuk pemanis buatan).

Apabila ini berlangsung lama, perlahan-lahan akan terjadi kejenuhan insulin dan sel tubuh akan menolak perintah untuk menyerap glukosa karena mereka sudah tidak bisa lagi menampung lebih banyak gula (resistensi insulin). Akibatnya, sebagian besar gula hanya akan menumpuk dalam darah (hyperglycemia).

Gejala Diabetes Tipe 2

Gejala-gejala yang umum ditemui pada Diabetes Tipe 2 adalah:
  • Mudah merasa lelah.
  • Sering kencing, terutama pada malam hari.
  • Sering merasa haus.
  • Sulit konsentrasi. 
  • Pandangan buram.
  • Turun berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Merasa gatal di bagian kemaluan dan infeksi jamur.
  • Luka yang lama sembuh.
Tidak semua orang mengalami gejala-gejala di atas, atau, tidak menganggap penting gejala-gejala tersebut.

Akibatnya banyak orang dengan Diabetes Tipe 2 yang tidak menyadari kalau dirinya sudah memiliki penyakit ini.

Kalau Anda mengalami gejala-gejala di atas, segera hubungi dokter dan lakukan pemeriksaan. Deteksi awal akan sangat membantu Anda dalam mengatasi Diabetes Tipe 2.

Apakah Diabetes Tipe 2 Bisa Disembuhkan?

Jawaban singkatnya, bisa. Kok bisa? Ya, karena saya menyakini bahwa Allah tidak akan menurunkan kondisi sakit pada seseorang tanpa ada obatnya.

Yang jadi tanda tanya adalah apa yang mesti diubah dan bagian mana yang harus diobati.

Saya bukanlah ahli kesehatan profesional dan bukan pula ahli dalam ilmu Diabetes. Saya hanyalah seseorang yang akhirnya mau mengakui bahwa saya memiliki Diabetes Tipe 2 setelah bertahun-tahun mengabaikan gejala-gejalanya.

Namun demikian, saya menyakini Diabetes Tipe 2 bukanlah akhir dan bisa disembuhkan. Apa yang bisa saya lakukan sekarang adalah merubah pola makan dan gaya hidup serta belajar lebih banyak tentang kondisi yang saya idap sambil mencari penyembuhan yang terbaik.

Apapun upaya penanganannya, orang dengan Diabetes Tipe 2 harus bisa menghadapi kenyataan tentang kondisi yang ada pada dirinya.

Melalui blog ini saya mencoba berbagi cerita, berbagi rangkuman belajar, dan juga berbagi pengalaman dengan harapan bisa ikut membantu orang dengan Diabetes Tipe 2 lainnya untuk meraih kesembuhan.

Photo: Sharon McCutcheon di Unsplash

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Diabetes Tipe 2 terhadap suasana hati

Mungkin tidak banyak yang menyadari kalau Diabetes Tipe 2 juga bisa mempengaruhi suasana hati. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini tak hanya berpengaruh buruk terhadap tubuh tapi juga terhadap hubungan kita dengan orang lain, terutama dengan orang-orang yang kita kasihi. Seperti dilansir oleh situs HealthDay , Diabetes bisa mempengaruhi suasana hati dan membuatnya berfluktuasi (mood swings). Hal serupa juga disampaikan artikel " High or low blood sugar making you cranky? Here's why " yang dimuat di situs MedTronic. Sedangkan MedicalNewsToday memberikan ciri bagaimana kadar gula darah tinggi akan mempengaruhi suasana hati: Kesulitan untuk berpikir jernih Merasa gugup atau cemas Merasa lelah dan tidak bertenaga Sebelum serangan struk yang menimpa Ayah, tidak pernah terlintas sebelumnya kalau fluktuasi suasana hati yang saya alami dipengaruhi oleh kadar gula darah yang tinggi. Saat itu saya berpikir kalau suasana hati yang berubah-ubah lebih disebabkan oleh

Menyikapi kenyataan punya Diabetes Tipe 2

Rasa malu adalah hal yang pertama kali saya rasakan saat mengetahui kalau saya punya Diabetes Tipe 2. Bahkan saat mengambil tes darah, saya melakukannya secara diam-diam karena tidak ingin ada orang yang tahu. Saya merasa Diabetes bukanlah sesuatu yang perlu untuk diceritakan. Cukup disimpan sendiri dan cukup sendiri pula menanganinya. Tapi kalau saya renungkan kembali, menyembunyikan kondisi kesehatan seperti Diabetes bukanlah langkah yang tepat. Bagaimana mungkin saya bisa mengatasi Diabetes tanpa dukungan orang-orang terdekat? Seburuk apapun kemungkinannya, saya butuh mereka dan mereka berhak untuk tahu. Saya akhirnya pun berkesimpulan bahwa keterbukaan merupakan langkah awal untuk meraih kesembuhan. Punya Diabetes adalah fakta hidup yang mau-tidak-mau harus dihadapi dan ini bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi. Ada rasa khawatir memang, mengingat komplikasi Diabetes yang begitu mengerikan. Tapi saya akan menggunakan rasa khawatir ini sebagai motivasi untuk melakukan perubaha

Gejala Diabetes yang sering tak disadari

Sebelum akhirnya memeriksakan kada gula darah, ada gejala Diabetes yang acapkali luput dari perhatian saya, yaitu sering buang air kecil. Saat itu saya tidak menyadari kalau frekwensi kencing saya sebenarnya sudah tidak normal.  Saya malah mengira hal ini wajar karena toh saya memang banyak minum. Jadi tidak aneh kalau keinginan buang air saya juga jadi lebih sering. Tapi setelah saya memahami kondisi yang sebenarnya dan mulai melakukan perubahan pola makan sehingga gula darah saya turun, saya perhatikan keinginan buang air kecil pun jadi jauh berkurang.Dulu saya bisa beberapa kali pergi ke toilet meskipun tak lama sebelumnya sudah melakukan itu. Ketika ingin buang air kecil, tak jarang saya merasa kerepotan karena rasanya sudah tak tertahankan. Kalau saya tunda, tak butuh lama rasa kebelet itu menghampiri, dan ini jelas mengkhawatirkan terutama kalau sedang berpergian. Menurut penjelasan di situs Mayo Clinic , tingginya gula dalam darah akan memaksa ginjal bekerja lebih keras un