Skip to main content

Kehabisan kata-kata





Terus terang mengikuti perkembangan virus corona banyak menyita pikiran dan rasa khawatir saya semakin tinggi ketika melihat perkembangan wabah ini di tanah air.

Melihat banyaknya orang yang keluar rumah dan sepertinya tidak lagi menghiraukan ancaman covid-19, saya akhirnya cuma bisa memohon kepada Allah agar kita semua dijaga oleh-Nya sambil berusaha melindungi diri dan keluarga semampunya.

Jika kondisi seperti ini terus berlanjut, logikanya gelombang ke dua akan datang lebih cepat dan meningkat signifikan. Padahal saya sendiri tidak yakin gelombang pertama sudah selesai.

Dan soal tenaga nakes yang kini kesal dan mengambil sikap 'terserah' adalah hal yang sangat wajar. Perjuangan berat mereka sekarang ini seperti dikondisikan untuk kalah. Baik karena peraturan yang terus berubah ataupun sikap masyarakat yang masa bodoh.

Apa yang kita hadapi sekarang adalah hal yang berat dan serius. Karena merupakan tarik ulur antara kesadaran untuk tidak tertular, sikap tak peduli lagi, dan keharusan untuk bertahan hidup.

Harapan positif saya adalah Allah tetap melindungi kita dari penularan meskipun masyarakat beramai-ramai keluar rumah dan aturan yang berubah-ubah. Bisa jadi ini adalah bentuk kasih sayang Allah agar kita berkurang stress dan beban hidupnya.

Tapi tidak dipungkiri pula ada rasa takut kalau semua ini adalah kebalikannya. Allah hendak mengganti kita dengan umat yang lebih baik dan membiarkan kita tenggelam dan hancur oleh ulah kita sendiri.

Sungguh, saya kehabisan kata-kata melihat kondisi kita saat ini. Dan apapun yang akan terjadi nanti, semoga kita terhindar dari bahayanya dan termasuk dari golongan orang yang dilindungi dan diselamatkan oleh Allah (SWT).

Photo by Lesly Juarez on Unsplash

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Diabetes Tipe 2 terhadap suasana hati

Mungkin tidak banyak yang menyadari kalau Diabetes Tipe 2 juga bisa mempengaruhi suasana hati. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini tak hanya berpengaruh buruk terhadap tubuh tapi juga terhadap hubungan kita dengan orang lain, terutama dengan orang-orang yang kita kasihi.
Seperti dilansir oleh situs HealthDay, Diabetes bisa mempengaruhi suasana hati dan membuatnya berfluktuasi (mood swings).

Hal serupa juga disampaikan artikel "High or low blood sugar making you cranky? Here's why" yang dimuat di situs MedTronic. Sedangkan MedicalNewsToday memberikan ciri bagaimana kadar gula darah tinggi akan mempengaruhi suasana hati: Kesulitan untuk berpikir jernihMerasa gugup atau cemasMerasa lelah dan tidak bertenaga Sebelum serangan struk yang menimpa Ayah, tidak pernah terlintas sebelumnya kalau fluktuasi suasana hati yang saya alami dipengaruhi oleh kadar gula darah yang tinggi. Saat itu saya berpikir kalau suasana hati yang berubah-ubah lebih disebabkan oleh stres di temp…

Menyikapi kenyataan punya Diabetes Tipe 2

Rasa malu adalah hal yang pertama kali saya rasakan saat mengetahui kalau saya punya Diabetes Tipe 2.

Bahkan saat mengambil tes darah, saya melakukannya secara diam-diam karena tidak ingin ada orang yang tahu. Saya merasa Diabetes bukanlah sesuatu yang perlu untuk diceritakan. Cukup disimpan sendiri dan cukup sendiri pula menanganinya.
Tapi kalau saya renungkan kembali, menyembunyikan kondisi kesehatan seperti Diabetes bukanlah langkah yang tepat.

Bagaimana mungkin saya bisa mengatasi Diabetes tanpa dukungan orang-orang terdekat? Seburuk apapun kemungkinannya, saya butuh mereka dan mereka berhak untuk tahu. Saya akhirnya pun berkesimpulan bahwa keterbukaan merupakan langkah awal untuk meraih kesembuhan.
Punya Diabetes adalah fakta hidup yang mau-tidak-mau harus dihadapi dan ini bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi. Ada rasa khawatir memang, mengingat komplikasi Diabetes yang begitu mengerikan. Tapi saya akan menggunakan rasa khawatir ini sebagai motivasi untuk melakukan perubahan.

Gejala Diabetes yang sering tak disadari

Sebelum akhirnya memeriksakan kada gula darah, ada gejala Diabetes yang acapkali luput dari perhatian saya, yaitu sering buang air kecil.

Saat itu saya tidak menyadari kalau frekwensi kencing saya sebenarnya sudah tidak normal.  Saya malah mengira hal ini wajar karena toh saya memang banyak minum. Jadi tidak aneh kalau keinginan buang air saya juga jadi lebih sering.
Tapi setelah saya memahami kondisi yang sebenarnya dan mulai melakukan perubahan pola makan sehingga gula darah saya turun, saya perhatikan keinginan buang air kecil pun jadi jauh berkurang.Dulu saya bisa beberapa kali pergi ke toilet meskipun tak lama sebelumnya sudah melakukan itu.
Ketika ingin buang air kecil, tak jarang saya merasa kerepotan karena rasanya sudah tak tertahankan. Kalau saya tunda, tak butuh lama rasa kebelet itu menghampiri, dan ini jelas mengkhawatirkan terutama kalau sedang berpergian.
Menurut penjelasan di situs Mayo Clinic, tingginya gula dalam darah akan memaksa ginjal bekerja lebih keras untuk m…