Skip to main content

Mencari sembuh dengan puasa di bulan Ramadan

Saat saya mencari tahu lebih dalam tentang Diabetes Tipe 2, saya menemukan sosok Dr. Jason Fung, seorang spesialis ginjal yang mempopulerkan metode intermittent fasting dan menjadi salah satu tokoh dunia di bidang diet rendah karbohidrat.

Dr. Fung mendapat banyak sorotan setelah menerbitkan buku The Diabetes Code: Prevent and Reverse Type 2 Diabetes Naturally yang mengklaim bahwa Diabetes Tipe 2 bukanlah penyakit kronis dan dapat disembuhkan. Klaim ini kemudian diperkuat dengan banyaknya saksi yang telah sukses "menghentikan" Diabetes melalui metode puasa selang-seling dan diet rendah karbohidratnya.

Saya pribadi bisa menerima berbagai pemaparan Dr. Fung dan menurut saya penjelasan beliau sangat logis dan memberikan pandangan yang lebih optimis dibandingkan dengan padangan umum yang mengatakan bahwa Diabetes Tipe 2 adalah penyakit menahun dan tidak bisa disembuhkan.

Saya sendiri saat ini masih belum menerapkan metode puasa yang diusung oleh Dr. Fung. Namun, saya sudah membuktikan bahwa "kelaparan" akan membuat kadar gula darah kita menjadi lebih baik.

Apa yang lakukan adalah menghentikan konsumsi nasi dan gula sama sekali. Termasuk di dalamnya nasi merah dan pemanis buatan.

Selain itu, saya juga mengurangi porsi dan jumlah makan menjadi satu atau dua kali sehari. Sebagai pengganti nasi, saya lebih banyak mengkonsumsi tahu, tempe, telur, dan sayur-sayuran.

Dari upaya saya ini, gula darah setelah makan saya berada dikisaran 115-140 mg/dL. Jauh berkurang dibandingkan sebelumnya yang selalu di atas 200 mg/dL dan semua ini dilakukan tanpa mengkonsumsi obat.

Nah, kembali ke soal puasa. Bulan Ramadan sebentar lagi akan tiba dan kalau masih diberikan usia, maka saya ingin mencoba puasa sebagai metode kontrol Diabetes saya.

Berdasarkan pengalaman saya sejauh ini, maka langkah yang akan saya ambil adalah:
  • Untuk sahur, saya tidak akan mengkonsumsi nasi dan tepung-tepungan sama sekali. Saya akan mengkonsumsi sayur, tahu/tempe, telur, daging, dan multivitamin. Untuk minumnya hanya air putih dan kalau ada, air kelapa murni.
  • Dua jam setelah sahur akan mengukur kadar gula darah. 
  • Saya tidak akan mengukur gula darah setelah bangun tidur karena berdasarkan pengalaman, hasil dari pengukuran ini tidak cukup konsisten untuk dijadikan rujukan. Berdasarkan apa yang saya baca, saat bangun tidur gula darah akan meningkat sebagai persiapan tubuh menghadapi hari sehingga tidak merefleksikan gula darah "puasa".
  • Menjelang sahur saya akan mengecek kadar gula darah ATAU mengecek gula darah dua jam setelah buka (atau sesaat setelah sholat Tarawih).
  • Untuk berbuka saya tidak akan mengkonsumsi nasi dan tepung-tepungan sama sekali. Tidak minum manis dan hanya air putih. Jika ada, air kelapa murni.
  • Saya akan mencatat kadar gula darah saya setiap harinya dan akan mempublikasikan hasilnya di Diabetalife.
Dalam pandangan saya bulan Ramadan adalah waktu yang ideal untuk menguji teori dari Dr. Fung karena bulan ini mengharuskan saya untuk berpuasa.

Dengan begitu, saya bisa konsisten melakukan uji coba ini, dan jika hasilnya positif, maka saya akan melanjutkan puasa sebagai metode pengendalian Diabetes untuk mendapatkan kesembuhan.

Bismillah! 

Photo by Hasan Almasi on Unsplash

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Diabetes Tipe 2 terhadap suasana hati

Mungkin tidak banyak yang menyadari kalau Diabetes Tipe 2 juga bisa mempengaruhi suasana hati. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini tak hanya berpengaruh buruk terhadap tubuh tapi juga terhadap hubungan kita dengan orang lain, terutama dengan orang-orang yang kita kasihi. Seperti dilansir oleh situs HealthDay , Diabetes bisa mempengaruhi suasana hati dan membuatnya berfluktuasi (mood swings). Hal serupa juga disampaikan artikel " High or low blood sugar making you cranky? Here's why " yang dimuat di situs MedTronic. Sedangkan MedicalNewsToday memberikan ciri bagaimana kadar gula darah tinggi akan mempengaruhi suasana hati: Kesulitan untuk berpikir jernih Merasa gugup atau cemas Merasa lelah dan tidak bertenaga Sebelum serangan struk yang menimpa Ayah, tidak pernah terlintas sebelumnya kalau fluktuasi suasana hati yang saya alami dipengaruhi oleh kadar gula darah yang tinggi. Saat itu saya berpikir kalau suasana hati yang berubah-ubah lebih disebabkan oleh

Menyikapi kenyataan punya Diabetes Tipe 2

Rasa malu adalah hal yang pertama kali saya rasakan saat mengetahui kalau saya punya Diabetes Tipe 2. Bahkan saat mengambil tes darah, saya melakukannya secara diam-diam karena tidak ingin ada orang yang tahu. Saya merasa Diabetes bukanlah sesuatu yang perlu untuk diceritakan. Cukup disimpan sendiri dan cukup sendiri pula menanganinya. Tapi kalau saya renungkan kembali, menyembunyikan kondisi kesehatan seperti Diabetes bukanlah langkah yang tepat. Bagaimana mungkin saya bisa mengatasi Diabetes tanpa dukungan orang-orang terdekat? Seburuk apapun kemungkinannya, saya butuh mereka dan mereka berhak untuk tahu. Saya akhirnya pun berkesimpulan bahwa keterbukaan merupakan langkah awal untuk meraih kesembuhan. Punya Diabetes adalah fakta hidup yang mau-tidak-mau harus dihadapi dan ini bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi. Ada rasa khawatir memang, mengingat komplikasi Diabetes yang begitu mengerikan. Tapi saya akan menggunakan rasa khawatir ini sebagai motivasi untuk melakukan perubaha

Gejala Diabetes yang sering tak disadari

Sebelum akhirnya memeriksakan kada gula darah, ada gejala Diabetes yang acapkali luput dari perhatian saya, yaitu sering buang air kecil. Saat itu saya tidak menyadari kalau frekwensi kencing saya sebenarnya sudah tidak normal.  Saya malah mengira hal ini wajar karena toh saya memang banyak minum. Jadi tidak aneh kalau keinginan buang air saya juga jadi lebih sering. Tapi setelah saya memahami kondisi yang sebenarnya dan mulai melakukan perubahan pola makan sehingga gula darah saya turun, saya perhatikan keinginan buang air kecil pun jadi jauh berkurang.Dulu saya bisa beberapa kali pergi ke toilet meskipun tak lama sebelumnya sudah melakukan itu. Ketika ingin buang air kecil, tak jarang saya merasa kerepotan karena rasanya sudah tak tertahankan. Kalau saya tunda, tak butuh lama rasa kebelet itu menghampiri, dan ini jelas mengkhawatirkan terutama kalau sedang berpergian. Menurut penjelasan di situs Mayo Clinic , tingginya gula dalam darah akan memaksa ginjal bekerja lebih keras un