Skip to main content

Pemerintah diharapkan bisa bantu kelola Diabetes masyarakat

Hasil Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS) tahun 2018  menunjukkan ada kenaikan jumlah orang dengan Diabetes di Indonesia menjadi 8,5 persen dari total jumlah penduduk atau lebih dari 16 juta orang dengan kecenderungan untuk terus naik.

Kenaikan ini tentu layak mendapat perhatian lebih serius dari masyarakat karena secara tidak langsung akan berdampak pada biaya kesehatan yang harus ditanggung kelak.

Disadari atau tidak, pengelolaan Diabetes adalah komitmen pemeliharaan kesehatan yang memerlukan waktu relatif lama.Tak hanya itu, Diabetes juga butuh partisipasi aktif dari orang yang memilikinya karena tanpanya, Diabetes dapat berkembang menjadi komplikasi kesehatan serius yang akan membebani pasien dan keluarga secara fisik, mental, maupun finansial.

Berkaitan dengan pengelolaan Diabetes di atas, pengecekan gula darah merupakan salah satu elemen tak terpisahkan dan jendela pertama untuk mengetahui seberapa efektif pengendalian Diabetes yang tengah dijalani. Namun, hal ini hanya dapat dilakukan apabila ketersediaan strip monitoring gula dapat diperoleh secara kontinyu.

Strip monitoring merupakan bagian dari alat ukur gula darah yang sifatnya sekali pakai dan harus dibeli setiap kali stoknya habis. Biasanya dikemas dalam botol kecil berisi 25 atau 50 strip dan setiap strip hanya bisa digunakan pada alat monitoring sesuai merek dan modelnya.

Bagi orang dengan Diabetes, belanja strip monitoring menjadi pengeluaran rutin yang mau-tidak-mau harus dianggarkan secara berkala. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah seberapa mampu kondisi seseorang untuk menganggarkan pengeluaran rutin tersebut?

Saat menulis artikel ini (12/02/20), saya mengecek sharga strip monitoring secara online merek GlucoDr (Super Sensor) dan Accu Chek (Performa) isi 50 dan harga rata-rata masing-masing merek mencapai 180 ribu dan 300 ribu rupiah per botolnya (dengan asumsi ongkir sekitar 20 ribu rupiah).

Jika penggunaan rutin adalah dua kali per hari, maka stok strip akan habis dalam waktu kurang dari satu bulan. Padahal biasanya monitor gula darah dilakukan lebih dari dua kali sehingga pemakaiannya pun jadi lebih cepat habis.

Melihat kondisi di atas, bisa dimengerti apabila orang akhirnya menunda pembelian atau mengurangi pemakaian agar tidak terlalu membebani kondisi keuangan keluarga.

Padahal dengan melakukan hal tersebut dapat menganggu pemantauan kelola Diabetes yang tengah dijalani. Terutama bagi mereka yang kondisi Diabetesnya sudah lebih parah.   

Saat ini Diabetes sudah dianggap sebagai ancaman kesehatan dunia dan sudah sepatutnya pemerintah mengambil kebijakan untuk meredam ancaman tersebut. Namun upaya meredam ancaman Diabetes bisa menjadi tidak efektif apabila mereka yang sudah punya Diabetes tidak dapat melakukan kelola Diabetes yang baik karena mengalami kesulitan untuk membeli strip secara berkala
.
Dari 16 juta orang dengan Diabetes di Indonesia, saya tidak tahu berapa persen yang mengalami kesulitan untuk membeli strip karena faktor ekonomi. Tapi saya menduga cukup banyak jumlahnya dan saya tidak malu untuk mengakui bahwa saya adalah salah satu dari mereka yang merasa berat untuk membeli strip secara rutin.

Oleh karenanya, saya pikir pemerintah perlu melakukan upaya lebih, baik berupa bantuan langsung penyediaan strip melalui BPJS Kesehatan atau mengeluarkan kebijakan untuk menetapkan harga eceran tertinggi (HET) strip monitoring gula darah.

Dengan adanya bantuan seperti tersebut di atas, diharapkan akan bisa meringankan beban belanja orang dengan Diabetes dan menekan angka komplikasi Diabetes melalui pengelolaan Diabetes yang lebih baik oleh masyarakat.

Ada lebih dari 16 juta orang di Indonesia memiliki Diabetes dan jika kita merujuk pada tren yang disampaikan dalam Hasil Riset Kesehatan Dasar 2018, maka kemungkinan angka ini akan terus naik.

Tentunya hal ini perlu mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat dan pemerintah karena Diabetes bisa menjadi ancaman serius baik dari sisi kesehatan ataupun finansial.

Mengelola Diabetes adalah komitmen jangka panjang dan ketersediaan strip monitoring gula darah rutin diperlukan untuk memastikan pengendalian Diabetes berjalan dengan baik.

Meskipun begitu, tidak semua orang dengan Diabetes dapat mengakomodir ketersediaan strip tersebut mengingat biaya yang harus dikeluarkan untuk belanja strip bisa cukup besar.

Untuk itu, perlu rasanya pemerintah melakukan upaya lebih agar pengelolaan Diabetes mandiri yang dilakukan oleh masyarakat bisa berjalan lebih baik lagi.

Salah satu dari upaya tersebut bisa berupa subsidi pengadaan strip monitoring gula darah melalui BPJS Kesehatan atau dengan mengeluarkan kebijakan untuk menentukan harga eceran tertinggi (HET) strip monitoring gula darah.

Adanya bantuan seperti ini tentunya akan meringkankan beban masyarakat karena salah satu alat utama pengendalian Diabetes menjadi lebih terjangkau yang pada akhirnya bisa menekan angka komplikasi Diabetes karena pengelolaan Diabetes menjadi lebih mudah dilakukan.

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Diabetes Tipe 2 terhadap suasana hati

Mungkin tidak banyak yang menyadari kalau Diabetes Tipe 2 juga bisa mempengaruhi suasana hati. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini tak hanya berpengaruh buruk terhadap tubuh tapi juga terhadap hubungan kita dengan orang lain, terutama dengan orang-orang yang kita kasihi.
Seperti dilansir oleh situs HealthDay, Diabetes bisa mempengaruhi suasana hati dan membuatnya berfluktuasi (mood swings).

Hal serupa juga disampaikan artikel "High or low blood sugar making you cranky? Here's why" yang dimuat di situs MedTronic. Sedangkan MedicalNewsToday memberikan ciri bagaimana kadar gula darah tinggi akan mempengaruhi suasana hati: Kesulitan untuk berpikir jernihMerasa gugup atau cemasMerasa lelah dan tidak bertenaga Sebelum serangan struk yang menimpa Ayah, tidak pernah terlintas sebelumnya kalau fluktuasi suasana hati yang saya alami dipengaruhi oleh kadar gula darah yang tinggi. Saat itu saya berpikir kalau suasana hati yang berubah-ubah lebih disebabkan oleh stres di temp…

Menyikapi kenyataan punya Diabetes Tipe 2

Rasa malu adalah hal yang pertama kali saya rasakan saat mengetahui kalau saya punya Diabetes Tipe 2.

Bahkan saat mengambil tes darah, saya melakukannya secara diam-diam karena tidak ingin ada orang yang tahu. Saya merasa Diabetes bukanlah sesuatu yang perlu untuk diceritakan. Cukup disimpan sendiri dan cukup sendiri pula menanganinya.
Tapi kalau saya renungkan kembali, menyembunyikan kondisi kesehatan seperti Diabetes bukanlah langkah yang tepat.

Bagaimana mungkin saya bisa mengatasi Diabetes tanpa dukungan orang-orang terdekat? Seburuk apapun kemungkinannya, saya butuh mereka dan mereka berhak untuk tahu. Saya akhirnya pun berkesimpulan bahwa keterbukaan merupakan langkah awal untuk meraih kesembuhan.
Punya Diabetes adalah fakta hidup yang mau-tidak-mau harus dihadapi dan ini bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi. Ada rasa khawatir memang, mengingat komplikasi Diabetes yang begitu mengerikan. Tapi saya akan menggunakan rasa khawatir ini sebagai motivasi untuk melakukan perubahan.

Gejala Diabetes yang sering tak disadari

Sebelum akhirnya memeriksakan kada gula darah, ada gejala Diabetes yang acapkali luput dari perhatian saya, yaitu sering buang air kecil.

Saat itu saya tidak menyadari kalau frekwensi kencing saya sebenarnya sudah tidak normal.  Saya malah mengira hal ini wajar karena toh saya memang banyak minum. Jadi tidak aneh kalau keinginan buang air saya juga jadi lebih sering.
Tapi setelah saya memahami kondisi yang sebenarnya dan mulai melakukan perubahan pola makan sehingga gula darah saya turun, saya perhatikan keinginan buang air kecil pun jadi jauh berkurang.Dulu saya bisa beberapa kali pergi ke toilet meskipun tak lama sebelumnya sudah melakukan itu.
Ketika ingin buang air kecil, tak jarang saya merasa kerepotan karena rasanya sudah tak tertahankan. Kalau saya tunda, tak butuh lama rasa kebelet itu menghampiri, dan ini jelas mengkhawatirkan terutama kalau sedang berpergian.
Menurut penjelasan di situs Mayo Clinic, tingginya gula dalam darah akan memaksa ginjal bekerja lebih keras untuk m…