Skip to main content

Apa benar ada Diabetes basah dan kering? Berikut penjelasannya.


Belum lama ini saya bergabung dengan sejumlah group di Facebook yang membahas topik seputar Diabetes. Dari interaksi saya di sana, ada pembicaraan yang mengatakan bahwa Diabetes itu ada jenis basah dan jenis kering.

Terus terang saya baru mendengarnya karena tidak pernah sebelumnya saya menemukan literatur yang mengatakan demikian. Setelah mencari tahu lebih jauh, ternyata yang dimaksud adalah sifat luka pada orang dengan Diabetes.

Kalau orang tersebut punya luka dan cepat sembuh, maka dinamakan Diabetes kering. Sedangkan kalau lukanya sulit sembuh disebut Diabetes basah.

Pandangan tentang Diabetes seperti ini cukup menarik buat saya karena Diabetes dianggap punya karakteristik yang berbeda berdasarkan pada luka yang dialami. Bahkan cukup banyak produk yang dipasarkan untuk mengobati Diabetes berdasarkan jenis luka basah atau kering ini.

Meski sudah beberapa kali saya dengar bahwa luka adalah salah satu hal yang harus diperhatikan oleh orang dengan Diabetes, tapi saya belum mengetahui banyak tentang hal ini.

Oleh karenanya, saya merasa perlu untuk mengedukasi diri saya sendiri agar bisa mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

Selama penelusuran saya di Internet, saya bersikap hati-hati agar tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan.  Siapa tahu memang ada jenis Diabetes basah dan kering yang membutuhkan penanganan berbeda. Karena kalau betul ada, saya tertarik untuk tahu saya masuk kategori yang mana.

Nah, setelah mengunjungi sejumlah situs medis terpercaya dan mencari-cari info seputar luka dan Diabetes, saya bisa menyimpulkan temuan saya sebagai berikut:
  1. Diabetes secara umum terbagi menjadi dua tipe: Diabetes Tipe 1 dan Diabetes Tipe 2. Kedua tipe ini adalah istilah medis yang disepakati di seluruh dunia dan digunakan oleh tenaga kesehatan profesional untuk menetapkan kondisi Diabetes seseorang. Saya tidak menemukan referensi akademis ataupun medis yang mengatakan bahwa ada Diabetes basah dan kering.
  2. Pandangan yang mengatakan bahwa ada Diabetes basah dan kering kemungkinan diambil berdasarkan observasi terhadap gangrene yang memang dikategorikan dengan gangrene basah atau gangrene kering.

Gangrene

Gangrene adalah sebuah kondisi medis di mana tidak mencukupinya aliran darah ke jaringan tubuh sehingga jaringan tersebut perlahan-lahan mati. Umumnya gangrene terjadi pada jaringan tubuh bagian ujung seperti kaki dan jemari tangan.

Berdasarkan informasi dari Diabetes.co.uk, gejala gangrene yang umum ditemui adalah:
  • Kemerahan di bagian yang terkena dan kemudian dapat berubah warna menjadi coklat atau hitam.
  • Rasa sakit di bagian yang terkena dan kemudian menjadi mati rasa.
Baik tipe basah ataupun kering, gangrene adalah kondisi serius dan memerlukan penanganan yang tepat.

Gangrene kering dan Diabetes

Gangrene kering biasanya disebabkan oleh kondisi medis yang sebelumnya pernah ada dan ini bisa menimpa orang dengan Diabetes tipe 1 ataupun tipe 2.

Misalnya saja karena kadar gula darah yang terus-menerus tinggi dan perlahan-lahan merusak jaringan pembuluh darah. Rusaknya pembuluh darah ini mengakibatkan terputusnya aliran nutrisi dan oksigen ke jaringan tubuh yang akhirnya membuat jaringan tubuh tersebut mati.

Gangrene basah dan Diabetes

Gangrene yang disebabkan oleh infeksi disebut dengan gangrene basah. Ini biasanya muncul ketika luka yang belum sembuh terinfeksi oleh bakteri.

Pembengkakan yang terjadi saat tubuh melawan infeksi tersebut menyebabkan terputusnya aliran darah di sekitar luka dan menimbulkan gangrene.

Pada orang dengan Diabetes, gangrene basah bisa menjadi masalah serius terutama bila daya tahan orang tersebut tidak dalam kondisi baik untuk melawan infeksi.

Pada berbagai contoh kasus yang saya temui di Internet, gangrene basah biasanya menyerang kaki dan bisa berawal dari luka kecil seperti bisul di kaki. Selain itu, gangrene basah lajunya lebih cepat dan dapat menyebabkan kematian karena sepsis.

Menangani gangrene

Pada kasus gangrene berat, amputasi merupakan langkah akhir yang biasanya diambil. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk mengenali gejala-gejalanya dan segera konsultasikan ke dokter untuk menentukan langkah yang sebaiknya diambil.

Untuk gangrene yang tidak begitu berat, ada beberapa cara yang mungkin direkomendasikan oleh tenaga kesehatan profesional, diantaranya:
  • Operasi/bedah, bertujuan untuk memperbaiki jaringan darah yang rusak atau mem-by-pass jaringan tersebut.
  • Antibiotik, ditujukan untuk melawan infeksi namun dengan catatan bahwa gangrene yang menimpa masih ditahap awal dan belum ada kerusakan jaringan darah yang signifikan.
  • Terapi hiperbarik, berfungsi untuk menyuplai oksigen murni ke tubuh dengan berada di dalam tabung bertekanan tinggi. Terapi ini merangsang pertumbuhan sel-sel baru dan memperbaiki sel-sel yang rusak. Hiperbarik tidak terbatas untuk menangani luka saja, tapi juga bisa untuk stroke, vertigo, diabetes, bahkan kecantikan. Ayah saya adalah satu pengguna terapi hiperbarik pasca serangan stroke ringan dengan hasil yang cukup bagus. Di Indonesia tidak banyak fasilitas hiperbarik yang tersedia, tapi salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menghubungi dokter spesialis hiperbarik seperti dr. Erick Supondha, MKK(DHM), DMAC.
  • Terapi belatung, terapi ini terbukti cukup efektif karena belatung akan memakan jaringan yang mati dan mengeluarkan cairan anti bakteria yang dapat membantu melawan infeksi. Perlu diperhatikan bahwa terapi belatung tidak bisa dilakukan sembarangan dan harus dengan pengawasan dokter.
Setelah bergabung dengan sejumlah grup Diabetes di Facebook, saya menemukan istilah Diabetes basah dan Diabetes kering yang cukup menarik perhatian. Karena ingin tahu lebih jauh, saya pun mencoba mencari tahu apakah benar ada karena ternyata banyak juga produk yang dipasarkan untuk mengobati Diabetes basah dan kering.

Dari hasil penelusuran, saya tidak menemukan literatur yang meyakinkan kalau Diabetes basah dan kering itu ada. Justru Diabetes yang selama ini diketahui, yaitu Tipe 1 dan Tipe 2, adalah tipe Diabetes yang dikenal di seluruh dunia dan diakui oleh dunia medis internasional.

Saya menduga istilah Diabetes basah dan kering didasarkan pada hasil observasi terhadap gangrene. Sebuah kondisi serius yang disebabkan oleh matinya jaringan tubuh karena tidak lagi menerima aliran darah yang disebabkan oleh rusaknya pembuluh-pembuluh darah di sekitar jaringan tubuh yang bersangkutan.

Dari pengalaman ini saya berpikir bahwa kita perlu untuk selalu menerapkan asas kehati-hatian. Karena dengan kondisi yang kita miliki, kita akan lebih mudah terbawa perasaan dan mudah percaya dengan hal-hal yang belum tentu benar adanya. Sebuah reaksi yang natural dan manusiawi sebenarnya.

Meskipun begitu, kita harus tetap mengelola ekspektasi dan mencoba untuk berpikir rasional. Terutama saat dihadapkan dengan berbagai promosi produk yang diklaim bisa menyembuhkan apa yang kita alami.

Saya rasa ini penting, karena pada akhirnya keputusan tetap ada di tangan kita dan kita jugalah yang akan merasakan manfaat ataupun kerugiannya.


Photo by Kahika on Unsplash

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Diabetes Tipe 2 terhadap suasana hati

Mungkin tidak banyak yang menyadari kalau Diabetes Tipe 2 juga bisa mempengaruhi suasana hati. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini tak hanya berpengaruh buruk terhadap tubuh tapi juga terhadap hubungan kita dengan orang lain, terutama dengan orang-orang yang kita kasihi. Seperti dilansir oleh situs HealthDay , Diabetes bisa mempengaruhi suasana hati dan membuatnya berfluktuasi (mood swings). Hal serupa juga disampaikan artikel " High or low blood sugar making you cranky? Here's why " yang dimuat di situs MedTronic. Sedangkan MedicalNewsToday memberikan ciri bagaimana kadar gula darah tinggi akan mempengaruhi suasana hati: Kesulitan untuk berpikir jernih Merasa gugup atau cemas Merasa lelah dan tidak bertenaga Sebelum serangan struk yang menimpa Ayah, tidak pernah terlintas sebelumnya kalau fluktuasi suasana hati yang saya alami dipengaruhi oleh kadar gula darah yang tinggi. Saat itu saya berpikir kalau suasana hati yang berubah-ubah lebih disebabkan oleh

Menyikapi kenyataan punya Diabetes Tipe 2

Rasa malu adalah hal yang pertama kali saya rasakan saat mengetahui kalau saya punya Diabetes Tipe 2. Bahkan saat mengambil tes darah, saya melakukannya secara diam-diam karena tidak ingin ada orang yang tahu. Saya merasa Diabetes bukanlah sesuatu yang perlu untuk diceritakan. Cukup disimpan sendiri dan cukup sendiri pula menanganinya. Tapi kalau saya renungkan kembali, menyembunyikan kondisi kesehatan seperti Diabetes bukanlah langkah yang tepat. Bagaimana mungkin saya bisa mengatasi Diabetes tanpa dukungan orang-orang terdekat? Seburuk apapun kemungkinannya, saya butuh mereka dan mereka berhak untuk tahu. Saya akhirnya pun berkesimpulan bahwa keterbukaan merupakan langkah awal untuk meraih kesembuhan. Punya Diabetes adalah fakta hidup yang mau-tidak-mau harus dihadapi dan ini bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi. Ada rasa khawatir memang, mengingat komplikasi Diabetes yang begitu mengerikan. Tapi saya akan menggunakan rasa khawatir ini sebagai motivasi untuk melakukan perubaha

Gejala Diabetes yang sering tak disadari

Sebelum akhirnya memeriksakan kada gula darah, ada gejala Diabetes yang acapkali luput dari perhatian saya, yaitu sering buang air kecil. Saat itu saya tidak menyadari kalau frekwensi kencing saya sebenarnya sudah tidak normal.  Saya malah mengira hal ini wajar karena toh saya memang banyak minum. Jadi tidak aneh kalau keinginan buang air saya juga jadi lebih sering. Tapi setelah saya memahami kondisi yang sebenarnya dan mulai melakukan perubahan pola makan sehingga gula darah saya turun, saya perhatikan keinginan buang air kecil pun jadi jauh berkurang.Dulu saya bisa beberapa kali pergi ke toilet meskipun tak lama sebelumnya sudah melakukan itu. Ketika ingin buang air kecil, tak jarang saya merasa kerepotan karena rasanya sudah tak tertahankan. Kalau saya tunda, tak butuh lama rasa kebelet itu menghampiri, dan ini jelas mengkhawatirkan terutama kalau sedang berpergian. Menurut penjelasan di situs Mayo Clinic , tingginya gula dalam darah akan memaksa ginjal bekerja lebih keras un