Skip to main content

Depresi dan pengaruhnya terhadap Diabetes

Beberapa hari yang lalu saya menemukan sebuah artikel di Diabetes.co.uk tentang depresi. Menurut saya artikel ini cukup menarik untuk ditelaah karena di sana ditulis bahwa depresi adalah masalah kejiwaan yang paling banyak ditemui pada orang dengan Diabetes.

Bahkan orang dengan Diabetes dikatakan memiliki resiko tiga kali lebih tinggi terkena depresi dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki Diabetes.

Memang, hal di atas merujuk pada kondisi yang ada di Inggris. Tapi saya pikir ini masih cukup relevan dengan kondisi kita di tanah air meski tidak bisa dibandingkan secara langsung.

Karena di mana pun kita tinggal, Diabetes merupakan keadaan yang tidak mudah untuk diterima dan acapkali dapat membuat kita merasa khawatir dengan berbagai resiko yang ditimbulkannya.

Lalu, apakah depresi itu? Depresi adalah sebuah istilah yang disematkan pada seseorang saat dirinya mengalami satu atau lebih gejala berikut ini:
  • Peraasaan sedih atau khawatir secara terus-menerus dan merasa hampa.
  • Dominannya rasa putus asa dan bersikap negatif.
  • Merasa tidak berdaya dan tidak punya kekuatan untuk merubah situasi.
  • Hilangnya minat untuk beraktivitas ataupun melakukan kegiatan yang menyenangkan.
  • Merasa lebih lelah dan tidak punya tenaga.
  • Tidak bisa tidur (insomnia), terlalu banyak tidur, atau sering terbangun tengah malam.
  • Kesulitan untuk berkonsentrasi, mengingat, dan mengambil keputusan.
  • Sering memikirkan tentang kematian bahkan bunuh diri.
  • Tidak bisa tenang.
  • Perubahan berat badan dan nafsu makan (berkurang/bertambah).
Seseorang dinyatakan mengalami depresi apabila gejala-gejala di atas dialami setidaknya selama dua minggu berturut-turut.

Pada orang dengan Diabetes, depresi biasanya berkaitan dengan rasa ketidakberdayaan dalam mengelola Diabetes itu sendiri. Terutama pada mereka yang baru saja didiagnosa dengan kondisi ini.

Perubahan gaya hidup dan pola makan, kunjungan ke dokter dan pengobatan, serta hal-hal lainnya untuk mencegah komplikasi dapat dilihat sebagai sesuatu yang memberatkan.

Belum lagi jika ada penilaian masyarakat yang menimbulkan rasa malu pada diri orang yang bersangkutan. Semua ini akhirnya menyebabkan orang tersebut tertekan dan kehilangan motivasi.

Meskipun begitu, orang dengan Diabetes bisa juga terkena depresi dari kondisi yang sama sekali tidak berkaitan dengan Diabetes yang dimilikinya. Misalnya karena kehilangan orang yang dikasihi, hubungan keluarga yang buruk, kondisi keuangan, dan tekanan pekerjaan yang berat.

Yang perlu diperhatikan adalah orang yang mengalami depresi dapat membuat kondisi Diabetesnya semakin serius. Karena tanpa pertolongan, depresi dapat membuat orang tersebut semakin kehilangan motivasi untuk hidup dan mengabaikan kesehatannya sendiri.

Seperti acuh pada monitoring gula darah, tidak lagi menerapkan pola makan sehat, dan tunduk pada rasa malas.

Depresi adalah isu kejiwaan yang tidak boleh diabaikan dan dapat memicu komplikasi Diabetes yang lebih berat. Jika ini sampai terjadi, maka bisa jadi akan menyebabkan depresi yang dialami menjadi lebih parah pula.

Oleh karenanya, penting bagi kita untuk mencari pertolongan sesegera mungkin jika mengalami gejala-gejala yang sudah disebutkan di atas.

Langkah awal yang mungkin bisa dilakukan adalah memaksakan diri untuk mulai mendekatkan diri kembali kepada Allah (SWT). Karena hanya dengan cara inilah pertolongan dan kesembuhan akan lebih mudah datang.

Selain itu, cara ini juga membuat kita menjadi lebih positif dalam menyikapi kondisi yang tengah kita hadapi dan jika dirasa perlu, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan para ahli kejiwaan sebagai upaya kita mengatasi depresi.

Depresi adalah sebuah kondisi kejiwaan yang tidak boleh diabaikan. Menurut penelitian di Inggris, orang dengan Diabetes memiliki resiko tiga kali lebih tinggi untuk mengalami depresi dan umumnya berkaitan dengan manajemen diabetes yang dirasa memberatkan terutama pada orang yang baru didiagnosa.

Meskipun begitu, tidak semua depresi yang dialami orang dengan Diabetes berasal dari Diabetes. Berbagai tekanan hidup yang berat tanpa ada jalan keluar juga bisa memicu depresi pada seseorang.

Apapun penyebabnya, depresi sebaiknya segera ditangani karena berpotensi membuat kondisi Diabetes seseorang menjadi lebih buruk.

Langkah awal yang mungkin bisa diambil adalah mendekatkan diri kembali kepada Sang Khalik karena ini merupakan jalan pembuka agar pertolongan dan kesembuhan lebih mudah datang.

Selain itu, berkonsultasi dengan ahli kejiwaan juga bisa ditempuh sebagai upaya kita mendapatkan kembali ketenangan yang telah lama hilang.

Apapun upaya yang diambil, depresi tidak boleh dibiarkan terus berkembang dan harus sesegara mungkin ditangani.

Jika Anda mengalaminya, maka jangan ragu untuk mencari pertolongan dan yakinlah bahwa kondisi ini bisa diatasi.

Sebagai penutup, cukup pantas rasanya kalau kali ini saya ucapkan di dalam jiwa yang sehat, terdapat raga yang kuat

Semangat!
 
Photo by Dan Meyers on Unsplash

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Diabetes Tipe 2 terhadap suasana hati

Mungkin tidak banyak yang menyadari kalau Diabetes Tipe 2 juga bisa mempengaruhi suasana hati. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini tak hanya berpengaruh buruk terhadap tubuh tapi juga terhadap hubungan kita dengan orang lain, terutama dengan orang-orang yang kita kasihi. Seperti dilansir oleh situs HealthDay , Diabetes bisa mempengaruhi suasana hati dan membuatnya berfluktuasi (mood swings). Hal serupa juga disampaikan artikel " High or low blood sugar making you cranky? Here's why " yang dimuat di situs MedTronic. Sedangkan MedicalNewsToday memberikan ciri bagaimana kadar gula darah tinggi akan mempengaruhi suasana hati: Kesulitan untuk berpikir jernih Merasa gugup atau cemas Merasa lelah dan tidak bertenaga Sebelum serangan struk yang menimpa Ayah, tidak pernah terlintas sebelumnya kalau fluktuasi suasana hati yang saya alami dipengaruhi oleh kadar gula darah yang tinggi. Saat itu saya berpikir kalau suasana hati yang berubah-ubah lebih disebabkan oleh

Menyikapi kenyataan punya Diabetes Tipe 2

Rasa malu adalah hal yang pertama kali saya rasakan saat mengetahui kalau saya punya Diabetes Tipe 2. Bahkan saat mengambil tes darah, saya melakukannya secara diam-diam karena tidak ingin ada orang yang tahu. Saya merasa Diabetes bukanlah sesuatu yang perlu untuk diceritakan. Cukup disimpan sendiri dan cukup sendiri pula menanganinya. Tapi kalau saya renungkan kembali, menyembunyikan kondisi kesehatan seperti Diabetes bukanlah langkah yang tepat. Bagaimana mungkin saya bisa mengatasi Diabetes tanpa dukungan orang-orang terdekat? Seburuk apapun kemungkinannya, saya butuh mereka dan mereka berhak untuk tahu. Saya akhirnya pun berkesimpulan bahwa keterbukaan merupakan langkah awal untuk meraih kesembuhan. Punya Diabetes adalah fakta hidup yang mau-tidak-mau harus dihadapi dan ini bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi. Ada rasa khawatir memang, mengingat komplikasi Diabetes yang begitu mengerikan. Tapi saya akan menggunakan rasa khawatir ini sebagai motivasi untuk melakukan perubaha

Gejala Diabetes yang sering tak disadari

Sebelum akhirnya memeriksakan kada gula darah, ada gejala Diabetes yang acapkali luput dari perhatian saya, yaitu sering buang air kecil. Saat itu saya tidak menyadari kalau frekwensi kencing saya sebenarnya sudah tidak normal.  Saya malah mengira hal ini wajar karena toh saya memang banyak minum. Jadi tidak aneh kalau keinginan buang air saya juga jadi lebih sering. Tapi setelah saya memahami kondisi yang sebenarnya dan mulai melakukan perubahan pola makan sehingga gula darah saya turun, saya perhatikan keinginan buang air kecil pun jadi jauh berkurang.Dulu saya bisa beberapa kali pergi ke toilet meskipun tak lama sebelumnya sudah melakukan itu. Ketika ingin buang air kecil, tak jarang saya merasa kerepotan karena rasanya sudah tak tertahankan. Kalau saya tunda, tak butuh lama rasa kebelet itu menghampiri, dan ini jelas mengkhawatirkan terutama kalau sedang berpergian. Menurut penjelasan di situs Mayo Clinic , tingginya gula dalam darah akan memaksa ginjal bekerja lebih keras un