Skip to main content

Jadi Telmi? Jangan minder, bisa jadi itu karena gula darah tinggi

Kalau belakangan ini Anda suka telat mikir (telmi), susah konsentrasi, dan jadi pelupa, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri dan merasa bodoh. Apalagi sampai minder. Boleh jadi ini cara tubuh memberitahu bahwa kadar gula dalam darah sudah tinggi dan harus segera ditangani.

Kesulitan berpikir atau dikenal dengan istilah brain fog (otak berkabut) adalah gejala yang cukup sering ditemui pada orang dengan Diabetes Tipe 2. 

Kondisi ini dapat muncul tanpa disadari dan akan mempengaruhi kemampuan seseorang dalam berpikir. Yang dulunya bisa konsentrasi, banyak ide, cepat tanggap, dan mudah berdiskusi, sekarang jadi sulit untuk menangkap, mengingat, dan mengeluarkan pendapat. Bahkan sekedar mendengarkan saja jadi tidak semangat. Kalau ini dibiarkan terus berlangsung, tentu akan mengganggu kinerja orang tersebut dan dapat mencederai kesehatan mentalnya.

Ada sejumlah hal yang diduga menjadi penyebab brain fog dan gula darah yang tinggi adalah salah satu faktor yang dipercaya menjadi pemicunya.

Kok bisa? Ya, karena tidak berbeda dengan organ lainnya, gula darah yang tinggi juga bisa merusak otak secara perlahan-lahan. Selain itu, gula darah tinggi juga menyebabkan otak tidak mendapatkan energi yang cukup karena adanya resistensi insulin yang menyebabkan tubuh tidak bisa memproses gula menjadi energi.

Pada otak, kerusakan setidaknya bisa terjadi pada pembuluh darah dan sel syaraf otak. Saat kerusakan terjadi pada sel syaraf maka terjadi gangguan pada transmisi sinyal antar simpul syaraf yang mana gangguan ini akan mempengaruhi kemampuan otak untuk memproses dan merespon. Bahkan menurut publikasi dari American Academy of Neurology Journals, gula darah tinggi pada Diabetes Tipe 2 akan mempercepat penurunan kognitif otak.

Pada orang dengan Diabetes, langkah pertama yang perlu dilakukan untuk mengatasi brain fog adalah menurunkan kadar gula darah dan mendapatkan istirahat (tidur) yang cukup. Mengurangi stress serta mengkonsumsi makanan yang sehat juga dianggap bisa membantu kita mengatasi brain fog.

Selain semua tadi, puasa selang-seling (intermittent fasting) juga diyakini bisa membantu meningkatkan kemampuan otak. Dan yang tak kalah penting adalah menerapkan prasangka baik terhadap sesama dan jangan lupa untuk melakukan pendekatan spriritual ke Allah (SWT) sebanyak-banyaknya.

Saya sendiri adalah salah satu orang yang cukup lama mengalami brain fog dan saat itu saya tidak menyadari kalau itu disebabkan oleh Diabetes. Saat brain fog terjadi, saya merasa kesulitan untuk berkonsentrasi dan malas untuk berpikir.

Bahkan untuk melakukan pekerjaan yang sederhana pun saya menemui kesulitan karena saya merasa tidak mampu memproses informasi. Ujung-ujungnya saya jadi suka menunda-nunda pekerjaan sambil menunggu merasa lebih baik.

Saya tidak pernah menyangka kalau brain fog disebabkan oleh gula darah yang tinggi. Saat itu saya mengira kalau itu disebabkan oleh rasa bosan dan stress dengan pekerjaan dan suasana kantor saja.

Tapi setelah saya jujur pada diri sendiri, ternyata apa yang saya alami sangat erat kaitannya dengan kondisi kesehatan saya sendiri.

Lamanya saya mengalami brain fog akhirnya berpengaruh juga pada rasa percaya diri.

Saya merasa bodoh dan tidak berharga karena saya tidak bisa memberikan ide, sulit mengikuti meeting, dan tidak bisa fokus pada pekerjaan.Di tambah dengan gejala Diabetes lainnya seperti pandangan yang buram dan terus menerus merasa lelah, akhirnya saya pun menjadi orang yang mudah tersinggung dan menarik diri. Bahkan tidak jarang saya bersikap negatif terhadap hampir semua hal, membenci diri saya sendiri, dan mempertanyakan takdir Allah (SWT).

Kondisi ini saya alami sampai akhir tahun lalu saat Ayah saya terkena stroke ringan.  Apa yang terjadi dengan Ayah memaksa saya untuk mengevaluasi diri saya sendiri dan berani mengakui bahwa saya memiliki kondisi yang serupa dengan Ayah. Kalau saya tidak segera melakukan perubahan, maka bukan tidak mungkin saya mengalami hal yang sama.

Sejak mengetahui punya Diabetes dan berupaya untuk mengontrol gula darah, saya merasakan perubahan yang cukup signifikan dengan tubuh saya. Misalnya saja frekwensi pergi ke toilet jauh berkurang, tidak cepat lelah, dan bisa berkonsentrasi. Padahal sebelumnya untuk mengetik satu paragraf saja saya sudah kepayahan.

Punya Diabetes memang sebuah perjuangan dan dalam setiap langkahnya banyak hal baru yang saya temui. Brain fog adalah salah satunya. Tidak pernah sebelumnya saya menyangka bahwa gula darah yang tinggi bisa memicu kondisi ini, dan tidak pernah pula saya menduga pengaruhnya yang begitu besar terhadap kepercayaan diri.

Mengontrol gula darah dan mendapatkan istirahat yang cukup adalah langkah awal yang bisa dilakukan. Selain itu, mengurangi stress, mengkonsumsi makanan yang sehat, dan puasa juga bisa membantu kita untuk keluar dari kondisi ini.

Dan yang tak kalah penting adalah merubah diri untuk berprasangka baik terhadap sesama dan mendekatkan diri kepada Allah (SWT). Karena sebanyak apapun usaha kita untuk kembali sehat, hanya dengan izin Allah-lah semua itu bisa menjadi nyata.


Photo by Ben White on Unsplash

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Diabetes Tipe 2 terhadap suasana hati

Mungkin tidak banyak yang menyadari kalau Diabetes Tipe 2 juga bisa mempengaruhi suasana hati. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini tak hanya berpengaruh buruk terhadap tubuh tapi juga terhadap hubungan kita dengan orang lain, terutama dengan orang-orang yang kita kasihi.
Seperti dilansir oleh situs HealthDay, Diabetes bisa mempengaruhi suasana hati dan membuatnya berfluktuasi (mood swings).

Hal serupa juga disampaikan artikel "High or low blood sugar making you cranky? Here's why" yang dimuat di situs MedTronic. Sedangkan MedicalNewsToday memberikan ciri bagaimana kadar gula darah tinggi akan mempengaruhi suasana hati: Kesulitan untuk berpikir jernihMerasa gugup atau cemasMerasa lelah dan tidak bertenaga Sebelum serangan struk yang menimpa Ayah, tidak pernah terlintas sebelumnya kalau fluktuasi suasana hati yang saya alami dipengaruhi oleh kadar gula darah yang tinggi. Saat itu saya berpikir kalau suasana hati yang berubah-ubah lebih disebabkan oleh stres di temp…

Menyikapi kenyataan punya Diabetes Tipe 2

Rasa malu adalah hal yang pertama kali saya rasakan saat mengetahui kalau saya punya Diabetes Tipe 2.

Bahkan saat mengambil tes darah, saya melakukannya secara diam-diam karena tidak ingin ada orang yang tahu. Saya merasa Diabetes bukanlah sesuatu yang perlu untuk diceritakan. Cukup disimpan sendiri dan cukup sendiri pula menanganinya.
Tapi kalau saya renungkan kembali, menyembunyikan kondisi kesehatan seperti Diabetes bukanlah langkah yang tepat.

Bagaimana mungkin saya bisa mengatasi Diabetes tanpa dukungan orang-orang terdekat? Seburuk apapun kemungkinannya, saya butuh mereka dan mereka berhak untuk tahu. Saya akhirnya pun berkesimpulan bahwa keterbukaan merupakan langkah awal untuk meraih kesembuhan.
Punya Diabetes adalah fakta hidup yang mau-tidak-mau harus dihadapi dan ini bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi. Ada rasa khawatir memang, mengingat komplikasi Diabetes yang begitu mengerikan. Tapi saya akan menggunakan rasa khawatir ini sebagai motivasi untuk melakukan perubahan.

Gejala Diabetes yang sering tak disadari

Sebelum akhirnya memeriksakan kada gula darah, ada gejala Diabetes yang acapkali luput dari perhatian saya, yaitu sering buang air kecil.

Saat itu saya tidak menyadari kalau frekwensi kencing saya sebenarnya sudah tidak normal.  Saya malah mengira hal ini wajar karena toh saya memang banyak minum. Jadi tidak aneh kalau keinginan buang air saya juga jadi lebih sering.
Tapi setelah saya memahami kondisi yang sebenarnya dan mulai melakukan perubahan pola makan sehingga gula darah saya turun, saya perhatikan keinginan buang air kecil pun jadi jauh berkurang.Dulu saya bisa beberapa kali pergi ke toilet meskipun tak lama sebelumnya sudah melakukan itu.
Ketika ingin buang air kecil, tak jarang saya merasa kerepotan karena rasanya sudah tak tertahankan. Kalau saya tunda, tak butuh lama rasa kebelet itu menghampiri, dan ini jelas mengkhawatirkan terutama kalau sedang berpergian.
Menurut penjelasan di situs Mayo Clinic, tingginya gula dalam darah akan memaksa ginjal bekerja lebih keras untuk m…