Skip to main content

Pengaruh Diabetes Tipe 2 terhadap suasana hati


Mungkin tidak banyak yang menyadari kalau Diabetes Tipe 2 juga bisa mempengaruhi suasana hati. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini tak hanya berpengaruh buruk terhadap tubuh tapi juga terhadap hubungan kita dengan orang lain, terutama dengan orang-orang yang kita kasihi.

Seperti dilansir oleh situs HealthDay, Diabetes bisa mempengaruhi suasana hati dan membuatnya berfluktuasi (mood swings).

Hal serupa juga disampaikan artikel "High or low blood sugar making you cranky? Here's why" yang dimuat di situs MedTronic. Sedangkan MedicalNewsToday memberikan ciri bagaimana kadar gula darah tinggi akan mempengaruhi suasana hati:
  • Kesulitan untuk berpikir jernih
  • Merasa gugup atau cemas
  • Merasa lelah dan tidak bertenaga
Sebelum serangan struk yang menimpa Ayah, tidak pernah terlintas sebelumnya kalau fluktuasi suasana hati yang saya alami dipengaruhi oleh kadar gula darah yang tinggi. Saat itu saya berpikir kalau suasana hati yang berubah-ubah lebih disebabkan oleh stres di tempat kerja dan faktor kelelahan biasa.

Waktu itu apa yang saya rasakan adalah mudah merasa lelah dan sulit berkonsentrasi. Kondisi ini pun makin diperparah dengan pandangan saya yang sedikit buram. Tentunya ini membuat saya jadi tidak nyaman dan merasa ada yang aneh tanpa tahu kenapa. Akibatnya saya jadi tidak fokus, mudah tersinggung, dan emosian pada hal-hal yang kecil.

Karena keacuhan saya sendiri terhadap kesehatan, saya membiarkan kondisi tadi berlangsung lama dan hanya berharap itu semua akan berhenti dengan sendirinya. Padahal kalau itu ditangani, saya yakin itu bisa meningkatkan kualitas hidup dan hubungan saya dengan orang-orang sekitar.

Meskipun begitu, saya bersyukur saya masih bisa menjaga hubungan baik dengan mereka. Hanya saja saya cenderung menarik diri dan lebih suka menyendiri agar bisa lebih banyak istirahat (tidur).

Menjaga asupan

Untuk mengatasi perubahan suasana hati karena kadar gula yang tinggi, pengelolaan asupan adalah hal yang penting untuk diperhatikan. Karena jenis makanan dan minuman yang mengkonsumsi menentukan seberapa tinggi kadar gula yang akan ada di dalam tubuh.

Apa yang saya lakukan saat ini adalah mengganti nasi putih dengan nasi merah dan mengurangi jumlahnya, memperbanyak sayur, menghindari snack berbahan baku terigu, serta menghindari sepenuhnya minuman manis.

Dari upaya saya ini, gula darah saya sekarang berada dikisaran 90 mg/dL - 120 mg/dL puasa dan 140 mg/dL - 170 mg/dL setelah makan. Masih belum mencapai target ideal tapi sudah lebih baik dari pemeriksaan saya sebelum-sebelumnya.

Apa yang saya rasakan adalah berkurangnya frekwensi buang air kecil, peningkatan daya konsentrasi, dan secara umum merasa lebih segar. Hal-hal yang tadinya membuat saya tidak nyaman dan aneh sudah berkurang jauh. Sedangkan untuk ketenangan hati, saya berusaha untuk memperbaikinya dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah dan mempelajari agama.

Kalau boleh saya bilang, Diabetes Tipe 2 adalah penyakit multidimensi di mana penyakit ini mempengaruhi fisik dan juga kejiwaan mereka yang memilikinya.

Tidak pernah sebelumnya terpikirkan oleh saya kalau Diabetes secara diam-diam mempengaruhi suasana hati sampai begitu besarnya. Dan saya akui itu adalah kesalahan saya sendiri karena telah abai terhadap gejala-gejala Diabetes.

Oleh karenanya, jika Anda mengalami seperti apa yang telah saya alami maka tidak ada salahnya untuk memeriksa kadar gula darah Anda. Dengan begitu, setidaknya Anda jadi punya kepastian tentang sumber masalahnya dan bisa lebih cepat mengambil langkah-langkah penanganannya.

Comments

Popular posts from this blog

Menyikapi kenyataan punya Diabetes Tipe 2

Rasa malu adalah hal yang pertama kali saya rasakan saat mengetahui kalau saya punya Diabetes Tipe 2. Bahkan saat mengambil tes darah, saya melakukannya secara diam-diam karena tidak ingin ada orang yang tahu. Saya merasa Diabetes bukanlah sesuatu yang perlu untuk diceritakan. Cukup disimpan sendiri dan cukup sendiri pula menanganinya. Tapi kalau saya renungkan kembali, menyembunyikan kondisi kesehatan seperti Diabetes bukanlah langkah yang tepat. Bagaimana mungkin saya bisa mengatasi Diabetes tanpa dukungan orang-orang terdekat? Seburuk apapun kemungkinannya, saya butuh mereka dan mereka berhak untuk tahu. Saya akhirnya pun berkesimpulan bahwa keterbukaan merupakan langkah awal untuk meraih kesembuhan. Punya Diabetes adalah fakta hidup yang mau-tidak-mau harus dihadapi dan ini bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi. Ada rasa khawatir memang, mengingat komplikasi Diabetes yang begitu mengerikan. Tapi saya akan menggunakan rasa khawatir ini sebagai motivasi untuk melakukan perubaha

Gejala Diabetes yang sering tak disadari

Sebelum akhirnya memeriksakan kada gula darah, ada gejala Diabetes yang acapkali luput dari perhatian saya, yaitu sering buang air kecil. Saat itu saya tidak menyadari kalau frekwensi kencing saya sebenarnya sudah tidak normal.  Saya malah mengira hal ini wajar karena toh saya memang banyak minum. Jadi tidak aneh kalau keinginan buang air saya juga jadi lebih sering. Tapi setelah saya memahami kondisi yang sebenarnya dan mulai melakukan perubahan pola makan sehingga gula darah saya turun, saya perhatikan keinginan buang air kecil pun jadi jauh berkurang.Dulu saya bisa beberapa kali pergi ke toilet meskipun tak lama sebelumnya sudah melakukan itu. Ketika ingin buang air kecil, tak jarang saya merasa kerepotan karena rasanya sudah tak tertahankan. Kalau saya tunda, tak butuh lama rasa kebelet itu menghampiri, dan ini jelas mengkhawatirkan terutama kalau sedang berpergian. Menurut penjelasan di situs Mayo Clinic , tingginya gula dalam darah akan memaksa ginjal bekerja lebih keras un