Skip to main content

Menyikapi kenyataan punya Diabetes Tipe 2


Rasa malu adalah hal yang pertama kali saya rasakan saat mengetahui kalau saya punya Diabetes Tipe 2.

Bahkan saat mengambil tes darah, saya melakukannya secara diam-diam karena tidak ingin ada orang yang tahu. Saya merasa Diabetes bukanlah sesuatu yang perlu untuk diceritakan. Cukup disimpan sendiri dan cukup sendiri pula menanganinya.

Tapi kalau saya renungkan kembali, menyembunyikan kondisi kesehatan seperti Diabetes bukanlah langkah yang tepat.

Bagaimana mungkin saya bisa mengatasi Diabetes tanpa dukungan orang-orang terdekat? Seburuk apapun kemungkinannya, saya butuh mereka dan mereka berhak untuk tahu. Saya akhirnya pun berkesimpulan bahwa keterbukaan merupakan langkah awal untuk meraih kesembuhan.

Punya Diabetes adalah fakta hidup yang mau-tidak-mau harus dihadapi dan ini bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi. Ada rasa khawatir memang, mengingat komplikasi Diabetes yang begitu mengerikan. Tapi saya akan menggunakan rasa khawatir ini sebagai motivasi untuk melakukan perubahan.

Saya tidak mau Diabetes menjadi momok yang menakutkan sehingga jadi penghalang untuk bisa mensyukuri apa yang Allah tetapkan untuk saya.
Sebagai mahluk, kita tidak bisa terlepas dari ketetapan Allah (SWT).

Termasuk Diabetes yang saya miliki sekarang ini. Adalah kesalahan saya sendiri yang menyebabkan saya seperti ini. Namun saya tetap meyakini kalau kasih sayang Allah itu jauh lebih besar dibandingkan dengan kebodohan saya.

Berbekal pemikiran ini, saya pun teringat ucapan Nabi (SAW) yang bersabda
"Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya." (HR Bukhari) 
Lalu Nabi (SAW) juga mengungkapkan
"Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat untuk suatu penyakit, penyakit itu akan sembuh dengan seizin Allah ‘Azza wa Jalla." (HR Muslim)
Dan dipertegas lagi dengan perkataan Allah dalam Al-Qur'an:
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (QS Asy Syu’ara: 80)

Jika Allah dan Rasul-Nya sudah berkata demikian, untuk apa lagi saya bersikap pesimis dengan Diabetes yang saya miliki?

Bukankah ini merupakan harapan yang sebenar-benarnya harapan bahwa orang dengan Diabetes Tipe 2 bisa sembuh? Apakah saya akan benar-benar sembuh sebelum kematian datang? Saya tidak tahu. Tapi yang jelas, ini memotivasi saya untuk berubah dan berupaya mencari kesembuhan.

Saya tidak bermaksud menggurui, namun jika Anda atau orang terdekat Anda punya Diabetes Tipe 2 dan ingin sembuh, mari kita dekati Allah.

Kita merengek, merayu, bahkan mengeluh kepada-Nya.

Meminta, memohon, dan mengemis kepada Allah untuk mendapatkan kesembuhan. Setelah itu, mari kita upayakan berubah dengan banyak mencari tahu, mau belajar, dan melakukan pencegahan dan pengobatan dengan memegang prinsip kehati-hatian. Baik secara medis ataupun non-medis.

Diabetes Tipe 2 yang kita miliki adalah ketetapan Allah dan kita harus bersyukur karenanya. Karena ini adalah bukti cinta Allah kepada kita. Nabi (SAW) mengatakan:
"Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya cobaan, dan Allah apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka. Barang siapa yang ridha maka ia akan mendapatkan keridhaan-Nya dan barang siapa yang kesal terhadapnya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya." (HR Ahmad dan Tirmidzi)
Dan selanjutkan ada ucapan Nabi (SAW) yang begitu melegakan:
Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya." (HR Bukhari & Muslim)
Sebagai hamba Allah, bukankah dihapuskannya dosa merupakan sebuah kenikmatan? Ya, memang kita merasa sakit, kesusahan, bahkan kepayahan.

Namun dibalik semua itu, adalah cinta Allah yang menginginkan hisab kita kelak menjadi lebih ringan.Bukankah itu sebuah keringanan yang luar biasa nikmatnya? Alhamdulillah!

Punya Diabetes adalah ketetapan Allah dan fakta hidup yang mau-tidak-mau harus dihadapi. Pastinya ada rasa khawatir, kesedihan, kesusahan, bahkan kepayahan dalam menjalaninya. Terlebih bagi mereka yang kondisinya sudah lebih berat.

Meskipun begitu, tetaplah yakin bahwa Allah bersama kita. Dekati Allah, rayu, merengek, menangis, dan memohon kesembuhan kepada-Nya.

Setelah itu mari lakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Baik itu melalui pencegahan, pengobatan ataupun spiritual. Dengan begitu, Insha Allah kondisi kita akan menjadi lebih baik. Dan dengan izin-Nya pulalah kita bisa meraih kesembuhan.

Bismillah...!

Photo by Paul Gilmore on Unsplash

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Diabetes Tipe 2 terhadap suasana hati

Mungkin tidak banyak yang menyadari kalau Diabetes Tipe 2 juga bisa mempengaruhi suasana hati. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini tak hanya berpengaruh buruk terhadap tubuh tapi juga terhadap hubungan kita dengan orang lain, terutama dengan orang-orang yang kita kasihi. Seperti dilansir oleh situs HealthDay , Diabetes bisa mempengaruhi suasana hati dan membuatnya berfluktuasi (mood swings). Hal serupa juga disampaikan artikel " High or low blood sugar making you cranky? Here's why " yang dimuat di situs MedTronic. Sedangkan MedicalNewsToday memberikan ciri bagaimana kadar gula darah tinggi akan mempengaruhi suasana hati: Kesulitan untuk berpikir jernih Merasa gugup atau cemas Merasa lelah dan tidak bertenaga Sebelum serangan struk yang menimpa Ayah, tidak pernah terlintas sebelumnya kalau fluktuasi suasana hati yang saya alami dipengaruhi oleh kadar gula darah yang tinggi. Saat itu saya berpikir kalau suasana hati yang berubah-ubah lebih disebabkan oleh

Gejala Diabetes yang sering tak disadari

Sebelum akhirnya memeriksakan kada gula darah, ada gejala Diabetes yang acapkali luput dari perhatian saya, yaitu sering buang air kecil. Saat itu saya tidak menyadari kalau frekwensi kencing saya sebenarnya sudah tidak normal.  Saya malah mengira hal ini wajar karena toh saya memang banyak minum. Jadi tidak aneh kalau keinginan buang air saya juga jadi lebih sering. Tapi setelah saya memahami kondisi yang sebenarnya dan mulai melakukan perubahan pola makan sehingga gula darah saya turun, saya perhatikan keinginan buang air kecil pun jadi jauh berkurang.Dulu saya bisa beberapa kali pergi ke toilet meskipun tak lama sebelumnya sudah melakukan itu. Ketika ingin buang air kecil, tak jarang saya merasa kerepotan karena rasanya sudah tak tertahankan. Kalau saya tunda, tak butuh lama rasa kebelet itu menghampiri, dan ini jelas mengkhawatirkan terutama kalau sedang berpergian. Menurut penjelasan di situs Mayo Clinic , tingginya gula dalam darah akan memaksa ginjal bekerja lebih keras un