Skip to main content

Gula darah tinggi karena kelengahan sesaat


Hari ini saya lengah dan merasa bodoh karena tidak tahan godaan untuk menikmati bakwan dan secuil nasi goreng. Sebenarnya saya tahu kalau ini akan membuat gula darah saya lompat. Tapi saya pikir kalau cuma sedikit paling naiknya tidak banyak. Wow, betapa salahnya saya.
Tadi pagi saya juga sempat minum susu segar Ultra yang putih. Tidak ada alasan sebenarnya, hanya ingin saja. Saat saya periksa, di situ tertulis total karbohidratnya adalah 9 gram. Saya pikir ini sih masih oke. Tapi setelah saya cek, ternyata ini setara dengan 2 sendok teh gula. Waduh.
Baru saja saya memeriksa kadar gula darah dan hasilnya sungguh mengejutkan, yaitu 280 mg/dL. Bisa jadi sebenarnya gula darah saya sudah tinggi sejak mengkonsumsi susu tadi dan diperparah dengan bakwan dan nasi goreng. Padahal sebelum-sebelumnya saya bisa menjaga gula darah saya di level 140-170 mg/dL setelah makan.
Apa yang terjadi hari ini adalah pelajaran penting. Saya harus lebih bisa menahan godaan dan harus lebih cermat dalam beli jajanan. Jangan mudah tergoda dengan kenikmatan sesaat tapi sebenarnya malah sesat.
Saya memang sekarang ini lagi cari tahu makanan apa saja yang tidak membuat gula darah saya lompat. Sejauh ini tempe, tahu, keju, kurma, buah naga, pir, dan sayuran termasuk makanan yang aman untuk saya konsumsi. Nasi merah cukup aman tapi tidak bisa banyak-banyak. Sedangkan nasi putih dan semua yang berbahan dasar tepung  harus dihindari sepenuhnya.
Apa yang terjadi hari ini adalah kejutan yang tidak mengenakan. Tapi saya sadar ini akibat dari keteledoran saya sendiri. Selanjutnya, saya harus bisa lebih cermat dalam mengelola keinginan agar apa yang saya lakukan hari ini akan tidak akan terulang lagi.


Photo by Isaac Smith on Unsplash

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Diabetes Tipe 2 terhadap suasana hati

Mungkin tidak banyak yang menyadari kalau Diabetes Tipe 2 juga bisa mempengaruhi suasana hati. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini tak hanya berpengaruh buruk terhadap tubuh tapi juga terhadap hubungan kita dengan orang lain, terutama dengan orang-orang yang kita kasihi. Seperti dilansir oleh situs HealthDay , Diabetes bisa mempengaruhi suasana hati dan membuatnya berfluktuasi (mood swings). Hal serupa juga disampaikan artikel " High or low blood sugar making you cranky? Here's why " yang dimuat di situs MedTronic. Sedangkan MedicalNewsToday memberikan ciri bagaimana kadar gula darah tinggi akan mempengaruhi suasana hati: Kesulitan untuk berpikir jernih Merasa gugup atau cemas Merasa lelah dan tidak bertenaga Sebelum serangan struk yang menimpa Ayah, tidak pernah terlintas sebelumnya kalau fluktuasi suasana hati yang saya alami dipengaruhi oleh kadar gula darah yang tinggi. Saat itu saya berpikir kalau suasana hati yang berubah-ubah lebih disebabkan oleh

Menyikapi kenyataan punya Diabetes Tipe 2

Rasa malu adalah hal yang pertama kali saya rasakan saat mengetahui kalau saya punya Diabetes Tipe 2. Bahkan saat mengambil tes darah, saya melakukannya secara diam-diam karena tidak ingin ada orang yang tahu. Saya merasa Diabetes bukanlah sesuatu yang perlu untuk diceritakan. Cukup disimpan sendiri dan cukup sendiri pula menanganinya. Tapi kalau saya renungkan kembali, menyembunyikan kondisi kesehatan seperti Diabetes bukanlah langkah yang tepat. Bagaimana mungkin saya bisa mengatasi Diabetes tanpa dukungan orang-orang terdekat? Seburuk apapun kemungkinannya, saya butuh mereka dan mereka berhak untuk tahu. Saya akhirnya pun berkesimpulan bahwa keterbukaan merupakan langkah awal untuk meraih kesembuhan. Punya Diabetes adalah fakta hidup yang mau-tidak-mau harus dihadapi dan ini bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi. Ada rasa khawatir memang, mengingat komplikasi Diabetes yang begitu mengerikan. Tapi saya akan menggunakan rasa khawatir ini sebagai motivasi untuk melakukan perubaha

Gejala Diabetes yang sering tak disadari

Sebelum akhirnya memeriksakan kada gula darah, ada gejala Diabetes yang acapkali luput dari perhatian saya, yaitu sering buang air kecil. Saat itu saya tidak menyadari kalau frekwensi kencing saya sebenarnya sudah tidak normal.  Saya malah mengira hal ini wajar karena toh saya memang banyak minum. Jadi tidak aneh kalau keinginan buang air saya juga jadi lebih sering. Tapi setelah saya memahami kondisi yang sebenarnya dan mulai melakukan perubahan pola makan sehingga gula darah saya turun, saya perhatikan keinginan buang air kecil pun jadi jauh berkurang.Dulu saya bisa beberapa kali pergi ke toilet meskipun tak lama sebelumnya sudah melakukan itu. Ketika ingin buang air kecil, tak jarang saya merasa kerepotan karena rasanya sudah tak tertahankan. Kalau saya tunda, tak butuh lama rasa kebelet itu menghampiri, dan ini jelas mengkhawatirkan terutama kalau sedang berpergian. Menurut penjelasan di situs Mayo Clinic , tingginya gula dalam darah akan memaksa ginjal bekerja lebih keras un