Skip to main content

Diabetes Tipe 2 dan resiko stroke


Pada November 2019 Ayah saya terkena stroke ringan (transient ischemic attack) yang mengakibatkan tubuh bagian kanan lemas, sulit bicara, dan tremor (goyang-goyang) di bagian kepala dan tangan kanannya.

Meski beliau bisa bergerak kembali, namun Ayah saya kehilangan sebagian besar kemandiriannya. Kini Ayah harus dipapah atau menggunakan walker untuk berjalan dan harus dikawal hampir setiap waktu karena resiko jatuh.

Peristiwa ini tentunya mengejutkan semua orang. Karena sebelumnya tidak ada tanda-tanda bahwa Ayah akan terkena stroke. Tapi dari cerita yang disampaikan ibu dan adik, bisa diduga kalau stroke yang diderita Ayah terjadi saat beliau tidur.

Stroke ringan merupakan kejadian di mana otak tidak mendapatkan aliran darah untuk beberapa waktu dan biasanya selesai dalam waktu 24 jam. Tidak seperti stroke sesungguhnya, stroke ringan tidak menyebabkan disabilitas permanen.

Meskipun begitu, stroke ringan harus mendapatkan tindakan medis karena stoke ringan merupakan peringatan awal dari stroke sesungguhnya.

Di Indonesia, stroke ringan jumlahnya lumayan banyak. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari Google, ada sekitar 150 ribu kasus setiap tahunnya.

Diabetes Tipe 2 dan Resiko Stroke

Hasil pemeriksaan menggunaan MRI menunjukkan bahwa Ayah saya terkena serangan di beberapa tempat.

Melihat dari dampak yang ditimbulkan (terutama lemas dan kesulitan bicara), maka dapat disimpulkan bahwa ini erat kaitannya dengan diabetes yang dimilikinya.

Secara umum, orang dengan Diabetes memiliki resiko 1,5 kali lebih besar terkena stroke dibanding dengan non-diabetes.

Hal ini dikarenakan kadar gula darah yang tinggi memicu lebih cepat terbentuknya sumbatan penyebab stroke (Ischemic) di pembuluh darah, terutama yang mengarah ke leher dan otak.

Sedangkan sumbatan itu sendiri disebabkan oleh darah yang mengental dan/atau penumpukan lemak di sekitar pembuluh darah yang menekan tepian pembuluh sehingga menjadi lebih sempit.

Peluang Terkena Stroke

Menurut American Diabetes Association, orang dengan Diabetes memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terkena stroke. Namun, resiko ini akan jadi lebih tinggi lagi diantaranya jika:
  • Berumur lebih dari 55 tahun.
  • Pernah mengalami stroke ringan.
  • Punya riwayat stroke ringan di keluarga.
  • Punya riwayat penyakit jantung.
  • Punya hipertensi.
  • Kelebihan berat badan.
  • Tidak aktif.
  • Merokok.
Mungkin ada resiko-resiko yang memang tidak bisa dihindari. Seperti usia ataupun riwayat stroke di keluarga.

Tapi resiko-resiko tersebut bisa diminimalisir untuk terjadi jika penderita Diabetes mengontrol Diabetesnya dan melakukan tindakan pencegahan pada resiko-resiko lainnya. Misalnya dengan tidak merokok, berolahraga, dan mengurangi berat badan.

Renungan

Saya akui selagi menulis postingan ini ada rasa khawatir yang menyusup di hati. Khawatir akan diri sendiri dan khawatir akan kondisi Ayah. Karena kalau melihat resiko-resiko di atas, kami berdua masuk dalam kategori resiko tinggi.

Tapi saya berusaha untuk tetap positif dan berprasangka baik kepada Allah. Apa yang bisa saya lakukan saat ini adalah mengontrol Diabetes kami, mengubah gaya hidup ke arah yang lebih sehat, serta memohon lindungan-Nya dari keburukan penyakit yang kami derita.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda atau seseorang yang Anda tahu memiliki resiko terkena stroke karena Diabetes? Apa yang Anda lakukan untuk meminimalisir resiko-resiko tersebut?

Photo by Robina Weermeijer on Unsplash

Comments

Popular posts from this blog

Pengaruh Diabetes Tipe 2 terhadap suasana hati

Mungkin tidak banyak yang menyadari kalau Diabetes Tipe 2 juga bisa mempengaruhi suasana hati. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini tak hanya berpengaruh buruk terhadap tubuh tapi juga terhadap hubungan kita dengan orang lain, terutama dengan orang-orang yang kita kasihi. Seperti dilansir oleh situs HealthDay , Diabetes bisa mempengaruhi suasana hati dan membuatnya berfluktuasi (mood swings). Hal serupa juga disampaikan artikel " High or low blood sugar making you cranky? Here's why " yang dimuat di situs MedTronic. Sedangkan MedicalNewsToday memberikan ciri bagaimana kadar gula darah tinggi akan mempengaruhi suasana hati: Kesulitan untuk berpikir jernih Merasa gugup atau cemas Merasa lelah dan tidak bertenaga Sebelum serangan struk yang menimpa Ayah, tidak pernah terlintas sebelumnya kalau fluktuasi suasana hati yang saya alami dipengaruhi oleh kadar gula darah yang tinggi. Saat itu saya berpikir kalau suasana hati yang berubah-ubah lebih disebabkan oleh

Menyikapi kenyataan punya Diabetes Tipe 2

Rasa malu adalah hal yang pertama kali saya rasakan saat mengetahui kalau saya punya Diabetes Tipe 2. Bahkan saat mengambil tes darah, saya melakukannya secara diam-diam karena tidak ingin ada orang yang tahu. Saya merasa Diabetes bukanlah sesuatu yang perlu untuk diceritakan. Cukup disimpan sendiri dan cukup sendiri pula menanganinya. Tapi kalau saya renungkan kembali, menyembunyikan kondisi kesehatan seperti Diabetes bukanlah langkah yang tepat. Bagaimana mungkin saya bisa mengatasi Diabetes tanpa dukungan orang-orang terdekat? Seburuk apapun kemungkinannya, saya butuh mereka dan mereka berhak untuk tahu. Saya akhirnya pun berkesimpulan bahwa keterbukaan merupakan langkah awal untuk meraih kesembuhan. Punya Diabetes adalah fakta hidup yang mau-tidak-mau harus dihadapi dan ini bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi. Ada rasa khawatir memang, mengingat komplikasi Diabetes yang begitu mengerikan. Tapi saya akan menggunakan rasa khawatir ini sebagai motivasi untuk melakukan perubaha

Gejala Diabetes yang sering tak disadari

Sebelum akhirnya memeriksakan kada gula darah, ada gejala Diabetes yang acapkali luput dari perhatian saya, yaitu sering buang air kecil. Saat itu saya tidak menyadari kalau frekwensi kencing saya sebenarnya sudah tidak normal.  Saya malah mengira hal ini wajar karena toh saya memang banyak minum. Jadi tidak aneh kalau keinginan buang air saya juga jadi lebih sering. Tapi setelah saya memahami kondisi yang sebenarnya dan mulai melakukan perubahan pola makan sehingga gula darah saya turun, saya perhatikan keinginan buang air kecil pun jadi jauh berkurang.Dulu saya bisa beberapa kali pergi ke toilet meskipun tak lama sebelumnya sudah melakukan itu. Ketika ingin buang air kecil, tak jarang saya merasa kerepotan karena rasanya sudah tak tertahankan. Kalau saya tunda, tak butuh lama rasa kebelet itu menghampiri, dan ini jelas mengkhawatirkan terutama kalau sedang berpergian. Menurut penjelasan di situs Mayo Clinic , tingginya gula dalam darah akan memaksa ginjal bekerja lebih keras un