Skip to main content

Posts

Showing posts from 2020

Kehabisan kata-kata

Terus terang mengikuti perkembangan virus corona banyak menyita pikiran dan rasa khawatir saya semakin tinggi ketika melihat perkembangan wabah ini di tanah air.
Melihat banyaknya orang yang keluar rumah dan sepertinya tidak lagi menghiraukan ancaman covid-19, saya akhirnya cuma bisa memohon kepada Allah agar kita semua dijaga oleh-Nya sambil berusaha melindungi diri dan keluarga semampunya.
Jika kondisi seperti ini terus berlanjut, logikanya gelombang ke dua akan datang lebih cepat dan meningkat signifikan. Padahal saya sendiri tidak yakin gelombang pertama sudah selesai.
Dan soal tenaga nakes yang kini kesal dan mengambil sikap 'terserah' adalah hal yang sangat wajar. Perjuangan berat mereka sekarang ini seperti dikondisikan untuk kalah. Baik karena peraturan yang terus berubah ataupun sikap masyarakat yang masa bodoh.
Apa yang kita hadapi sekarang adalah hal yang berat dan serius. Karena merupakan tarik ulur antara kesadaran untuk tidak tertular, sikap tak ped…

Mencari sembuh dengan puasa di bulan Ramadan

Saat saya mencari tahu lebih dalam tentang Diabetes Tipe 2, saya menemukan sosok Dr. Jason Fung, seorang spesialis ginjal yang mempopulerkan metode intermittent fasting dan menjadi salah satu tokoh dunia di bidang diet rendah karbohidrat.
Dr. Fung mendapat banyak sorotan setelah menerbitkan buku The Diabetes Code: Prevent and Reverse Type 2 Diabetes Naturally yang mengklaim bahwa Diabetes Tipe 2 bukanlah penyakit kronis dan dapat disembuhkan. Klaim ini kemudian diperkuat dengan banyaknya saksi yang telah sukses "menghentikan" Diabetes melalui metode puasa selang-seling dan diet rendah karbohidratnya.
Saya pribadi bisa menerima berbagai pemaparan Dr. Fung dan menurut saya penjelasan beliau sangat logis dan memberikan pandangan yang lebih optimis dibandingkan dengan padangan umum yang mengatakan bahwa Diabetes Tipe 2 adalah penyakit menahun dan tidak bisa disembuhkan.
Saya sendiri saat ini masih belum menerapkan metode puasa yang diusung oleh Dr. Fung. Namun, saya suda…

Depresi dan pengaruhnya terhadap Diabetes

Beberapa hari yang lalu saya menemukan sebuah artikel di Diabetes.co.uk tentang depresi. Menurut saya artikel ini cukup menarik untuk ditelaah karena di sana ditulis bahwa depresi adalah masalah kejiwaan yang paling banyak ditemui pada orang dengan Diabetes.

Bahkan orang dengan Diabetes dikatakan memiliki resiko tiga kali lebih tinggi terkena depresi dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki Diabetes.
Memang, hal di atas merujuk pada kondisi yang ada di Inggris. Tapi saya pikir ini masih cukup relevan dengan kondisi kita di tanah air meski tidak bisa dibandingkan secara langsung.

Karena di mana pun kita tinggal, Diabetes merupakan keadaan yang tidak mudah untuk diterima dan acapkali dapat membuat kita merasa khawatir dengan berbagai resiko yang ditimbulkannya.
Lalu, apakah depresi itu? Depresi adalah sebuah istilah yang disematkan pada seseorang saat dirinya mengalami satu atau lebih gejala berikut ini:
Peraasaan sedih atau khawatir secara terus-menerus dan merasa hampa.Dominannya…

Pemerintah diharapkan bisa bantu kelola Diabetes masyarakat

Hasil Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS) tahun 2018  menunjukkan ada kenaikan jumlah orang dengan Diabetes di Indonesia menjadi 8,5 persen dari total jumlah penduduk atau lebih dari 16 juta orang dengan kecenderungan untuk terus naik.

Kenaikan ini tentu layak mendapat perhatian lebih serius dari masyarakat karena secara tidak langsung akan berdampak pada biaya kesehatan yang harus ditanggung kelak.
Disadari atau tidak, pengelolaan Diabetes adalah komitmen pemeliharaan kesehatan yang memerlukan waktu relatif lama.Tak hanya itu, Diabetes juga butuh partisipasi aktif dari orang yang memilikinya karena tanpanya, Diabetes dapat berkembang menjadi komplikasi kesehatan serius yang akan membebani pasien dan keluarga secara fisik, mental, maupun finansial.
Berkaitan dengan pengelolaan Diabetes di atas, pengecekan gula darah merupakan salah satu elemen tak terpisahkan dan jendela pertama untuk mengetahui seberapa efektif pengendalian Diabetes yang tengah dijalani. Namun, hal ini hanya dapat dila…

Apa benar ada Diabetes basah dan kering? Berikut penjelasannya.

Belum lama ini saya bergabung dengan sejumlah group di Facebook yang membahas topik seputar Diabetes. Dari interaksi saya di sana, ada pembicaraan yang mengatakan bahwa Diabetes itu ada jenis basah dan jenis kering.
Terus terang saya baru mendengarnya karena tidak pernah sebelumnya saya menemukan literatur yang mengatakan demikian. Setelah mencari tahu lebih jauh, ternyata yang dimaksud adalah sifat luka pada orang dengan Diabetes.

Kalau orang tersebut punya luka dan cepat sembuh, maka dinamakan Diabetes kering. Sedangkan kalau lukanya sulit sembuh disebut Diabetes basah.

Pandangan tentang Diabetes seperti ini cukup menarik buat saya karena Diabetes dianggap punya karakteristik yang berbeda berdasarkan pada luka yang dialami. Bahkan cukup banyak produk yang dipasarkan untuk mengobati Diabetes berdasarkan jenis luka basah atau kering ini.

Meski sudah beberapa kali saya dengar bahwa luka adalah salah satu hal yang harus diperhatikan oleh orang dengan Diabetes, tapi saya belum mengeta…

Jadi Telmi? Jangan minder, bisa jadi itu karena gula darah tinggi

Kalau belakangan ini Anda suka telat mikir (telmi), susah konsentrasi, dan jadi pelupa, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri dan merasa bodoh. Apalagi sampai minder. Boleh jadi ini cara tubuh memberitahu bahwa kadar gula dalam darah sudah tinggi dan harus segera ditangani.
Kesulitan berpikir atau dikenal dengan istilah brain fog (otak berkabut) adalah gejala yang cukup sering ditemui pada orang dengan Diabetes Tipe 2. 

Kondisi ini dapat muncul tanpa disadari dan akan mempengaruhi kemampuan seseorang dalam berpikir. Yang dulunya bisa konsentrasi, banyak ide, cepat tanggap, dan mudah berdiskusi, sekarang jadi sulit untuk menangkap, mengingat, dan mengeluarkan pendapat. Bahkan sekedar mendengarkan saja jadi tidak semangat. Kalau ini dibiarkan terus berlangsung, tentu akan mengganggu kinerja orang tersebut dan dapat mencederai kesehatan mentalnya.
Ada sejumlah hal yang diduga menjadi penyebab brain fog dan gula darah yang tinggi adalah salah satu faktor yang dipercaya menjadi pemicu…

Jalani diabetes dengan hobi

Mengelola Diabetes bisa menjadi rutinitas yang membosankan. Bagaimana tidak? Tiap hari kita harus melakukan cek gula darah, menjaga asupan makanan, dan konsumsi obat.

Memang, itu adalah bagian yang tidak terpisahkan pada orang dengan Diabetes. Tapi saya rasa hal tersebut bukanlah penghalang bagi kita untuk bisa menikmati hidup.
Selain ketiga hal di atas, mengelola Diabetes juga perlu memperhatikan sisi psikologisnya. Terutama yang berurusan dengan ketenangan hati. Karena hati yang tenang tentunya akan membawa pengaruh positif terhadap pengelolaan Diabetes itu sendiri.
Ada banyak cara untuk bisa mendapatkan ketenangan hati. Yang utama tentunya adalah dengan banyak-banyak mengingat Allah (SWT) dan banyak-banyak bersyukur. Sedangkan cara berikutnya bisa dengan bekerja, melakukan hobi, ataupun berkumpul bersama orang-orang yang kita sayangi.
Menjalankan hobi menurut saya adalah sebuah kegiatan yang bermanfaat karena memudahkan kita untuk melepaskan penat, menghilangkan bosan, dan menurun…

Gula darah tinggi karena kelengahan sesaat

Hari ini saya lengah dan merasa bodoh karena tidak tahan godaan untuk menikmati bakwan dan secuil nasi goreng. Sebenarnya saya tahu kalau ini akan membuat gula darah saya lompat. Tapi saya pikir kalau cuma sedikit paling naiknya tidak banyak. Wow, betapa salahnya saya.
Tadi pagi saya juga sempat minum susu segar Ultra yang putih. Tidak ada alasan sebenarnya, hanya ingin saja. Saat saya periksa, di situ tertulis total karbohidratnya adalah 9 gram. Saya pikir ini sih masih oke. Tapi setelah saya cek, ternyata ini setara dengan 2 sendok teh gula. Waduh.
Baru saja saya memeriksa kadar gula darah dan hasilnya sungguh mengejutkan, yaitu 280 mg/dL. Bisa jadi sebenarnya gula darah saya sudah tinggi sejak mengkonsumsi susu tadi dan diperparah dengan bakwan dan nasi goreng. Padahal sebelum-sebelumnya saya bisa menjaga gula darah saya di level 140-170 mg/dL setelah makan.
Apa yang terjadi hari ini adalah pelajaran penting. Saya harus lebih bisa menahan godaan dan harus lebih cermat dalam b…

Gejala Diabetes yang sering tak disadari

Sebelum akhirnya memeriksakan kada gula darah, ada gejala Diabetes yang acapkali luput dari perhatian saya, yaitu sering buang air kecil.

Saat itu saya tidak menyadari kalau frekwensi kencing saya sebenarnya sudah tidak normal.  Saya malah mengira hal ini wajar karena toh saya memang banyak minum. Jadi tidak aneh kalau keinginan buang air saya juga jadi lebih sering.
Tapi setelah saya memahami kondisi yang sebenarnya dan mulai melakukan perubahan pola makan sehingga gula darah saya turun, saya perhatikan keinginan buang air kecil pun jadi jauh berkurang.Dulu saya bisa beberapa kali pergi ke toilet meskipun tak lama sebelumnya sudah melakukan itu.
Ketika ingin buang air kecil, tak jarang saya merasa kerepotan karena rasanya sudah tak tertahankan. Kalau saya tunda, tak butuh lama rasa kebelet itu menghampiri, dan ini jelas mengkhawatirkan terutama kalau sedang berpergian.
Menurut penjelasan di situs Mayo Clinic, tingginya gula dalam darah akan memaksa ginjal bekerja lebih keras untuk m…

Menyikapi kenyataan punya Diabetes Tipe 2

Rasa malu adalah hal yang pertama kali saya rasakan saat mengetahui kalau saya punya Diabetes Tipe 2.

Bahkan saat mengambil tes darah, saya melakukannya secara diam-diam karena tidak ingin ada orang yang tahu. Saya merasa Diabetes bukanlah sesuatu yang perlu untuk diceritakan. Cukup disimpan sendiri dan cukup sendiri pula menanganinya.
Tapi kalau saya renungkan kembali, menyembunyikan kondisi kesehatan seperti Diabetes bukanlah langkah yang tepat.

Bagaimana mungkin saya bisa mengatasi Diabetes tanpa dukungan orang-orang terdekat? Seburuk apapun kemungkinannya, saya butuh mereka dan mereka berhak untuk tahu. Saya akhirnya pun berkesimpulan bahwa keterbukaan merupakan langkah awal untuk meraih kesembuhan.
Punya Diabetes adalah fakta hidup yang mau-tidak-mau harus dihadapi dan ini bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi. Ada rasa khawatir memang, mengingat komplikasi Diabetes yang begitu mengerikan. Tapi saya akan menggunakan rasa khawatir ini sebagai motivasi untuk melakukan perubahan.

Pengaruh Diabetes Tipe 2 terhadap suasana hati

Mungkin tidak banyak yang menyadari kalau Diabetes Tipe 2 juga bisa mempengaruhi suasana hati. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini tak hanya berpengaruh buruk terhadap tubuh tapi juga terhadap hubungan kita dengan orang lain, terutama dengan orang-orang yang kita kasihi.
Seperti dilansir oleh situs HealthDay, Diabetes bisa mempengaruhi suasana hati dan membuatnya berfluktuasi (mood swings).

Hal serupa juga disampaikan artikel "High or low blood sugar making you cranky? Here's why" yang dimuat di situs MedTronic. Sedangkan MedicalNewsToday memberikan ciri bagaimana kadar gula darah tinggi akan mempengaruhi suasana hati: Kesulitan untuk berpikir jernihMerasa gugup atau cemasMerasa lelah dan tidak bertenaga Sebelum serangan struk yang menimpa Ayah, tidak pernah terlintas sebelumnya kalau fluktuasi suasana hati yang saya alami dipengaruhi oleh kadar gula darah yang tinggi. Saat itu saya berpikir kalau suasana hati yang berubah-ubah lebih disebabkan oleh stres di temp…

Diabetes Tipe 2 dan resiko stroke

Pada November 2019 Ayah saya terkena stroke ringan (transient ischemic attack) yang mengakibatkan tubuh bagian kanan lemas, sulit bicara, dan tremor (goyang-goyang) di bagian kepala dan tangan kanannya.

Meski beliau bisa bergerak kembali, namun Ayah saya kehilangan sebagian besar kemandiriannya. Kini Ayah harus dipapah atau menggunakan walker untuk berjalan dan harus dikawal hampir setiap waktu karena resiko jatuh.
Peristiwa ini tentunya mengejutkan semua orang. Karena sebelumnya tidak ada tanda-tanda bahwa Ayah akan terkena stroke. Tapi dari cerita yang disampaikan ibu dan adik, bisa diduga kalau stroke yang diderita Ayah terjadi saat beliau tidur.
Stroke ringan merupakan kejadian di mana otak tidak mendapatkan aliran darah untuk beberapa waktu dan biasanya selesai dalam waktu 24 jam. Tidak seperti stroke sesungguhnya, stroke ringan tidak menyebabkan disabilitas permanen.

Meskipun begitu, stroke ringan harus mendapatkan tindakan medis karena stoke ringan merupakan peringatan awal da…